Analisis Fungsi Tari Jonggan pada Suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

oleh -101 views
Dokumentasi Pementasan Tari Jongan

Penulis dan peneliti : Yovi Kristova S, S.Pds

Tari Jonggan adalah tari tradisional khas Dayak Kanayatn yang bersifat menghibur. Ada beberapa daerah yang dapat kita temui masih melestarikan tari Jonggan, satu di antaranya adalah Desa Pahauman Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Tari Jonggan juga merupakan tari pergaulan masyarakat Dayak Kanayatn. Tari Jonggan menggambarkan suka cita dan kebahagiaan masyarakat Dayak Kanayatn. Jonggan dalam bahasa Kanayatn sama artinya dengan joget, Bejonggan berarti berjoget.

Tari Jonggan mulai muncul setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1950. Tarian ini mulai disahkan oleh seorang camat yang bernama Impan sebagai tarian hiburan di masyrakat dayak Kanayatn. Sebelum Jonggan muncul, sudah pernah ada satu tarian hiburan yang berkembang di masyarakat Dayak Kanayatn. Tarian tersebut dikenal dengan nama Makyong. Makyong merupakan tarian hiburan pada masyarakat Melayu yang sudah ada sebelum tahun 50an. Terinspirasi dari kesenian Melayu tersebut, maka diciptakanlah tari Jonggan untuk hiburan khas masyarakat Dayak khususnya Dayak Kanayatn. Makyong menjadi satu di antara faktor penyebab terciptanya tari Jonggan.

Awal mula tari Jonggan diciptakan guna untuk menghibur masyarakat yang sudah letih bekerja kepada pemerintah daerah untuk membuat jalan setapak antara beberapa dusun yang ada di daerah kecamatan Sengah Temilak. Pada siang hari masyarakat bekerja mencangkul jalan antardusun, kemudian malam harinya para pekerja jalan tersebut dihibur dengan tarian Jonggan yang disiapkan oleh bernama camat Impan. Tari Jonggan tidak hanya menghibur pekerja jalan, tetapi juga menjadi hiburan bagi masyarakat Dayak Kanayatn yang ada di Desa Pahuman.

Tari Jonggan semakin popular dikalangan masyarakat Dayak Kanayatn, sehingga pada acara-acara syukuran, pernikahan dan peringatan hari kemerdekaan pun tari Jonggan sering ditampilkan. Permasalahan yang diangkat dari tari Jonggan ini adalah tentang fungsi yang ada dalam tari Jonggan serta bentuk pertunjukan dari tari Jonggan itu sendiri.
Tarian Jonggan ini semakin lama semakin ditinggalkan oleh masyarakat Kanayatn. selain itu, peneliti memilih tari Jonggan karena terdapat perubahan fungsi pertunjukkan dari tari Jonggan. Pada masa lampau Jonggan lebih sering ditarikan diacara syukuran, namun pada saat ini tari Jonggan lebih sering ditarikan di acara hiburan seperti dalam acara pernikahan sehingga yang tampak jelas hanya fungsi hiburan semata.

Pada masa lampau Jonggan lebih sering ditarikan diacara syukuran, namun pada saat ini tari Jonggan lebih sering ditarikan di acara hiburan seperti dalam acara pernikahan sehingga yang tampak jelas hanya fungsi hiburan semata. Tari Jonggan memiliki nilai kebersamaan, hal tersebut dapat terlihat dari pola gerak yang selalu berhadapan serta dalam pelaksanaannya melibatkan penonton dalam menari. Tari Jonggan juga menjadi media komunikasi yang baik dan bisa diambil pesannya dalam setiap pantun-pantun yang terdapat dalam syair lagu Jonggan bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi media komunikasi, penari juga bisa menyalurkan bakatnya dalam menari dan menyanyi. Sebagai penari Jonggan, tidak hanya dituntut bisa menari, tetapi juga bisa menyanyi. Terdapat juga kelompok Jonggan yang sudah menyiapkan orang yang khusus menyanyi.

A. Sekilas Tentang Kehidupan We’jonggan

We’jonggan adalah sebuah profesi yang menuntut kemahiran seseorang dalam menari dan biasanya juga menyanyi. Tidak terlepas dari kodrat seorang wanita, mereka juga tetap melakukan kewajibannya sebagai wanita yang mengurus rumah tangga apabila tidak menari. Wanita yang menjadi We’jonggan biasanya berpenampilan cantik,sehingga bisa dengan mudah menarik perhatian penonton. Cantik pada jaman dahulu bukanlah cantik karena riasan juga bukan hanya karena kesempurnaan fisik seperti memiliki hidung mancung, mata besar, atau pipi yang tirus. Cantik dalam hal ini menurut pandangan masyarakat dahulu adalah cantik memiliki aura dari dalam diri seorang wanita. Cantik dalam bersikap, lemah lembut dalam berucap. Fisik yang menawan dengan kesederhanaan dan keramahan penari menjadi daya tarik yang tersendiri.

Selain itu, We’jonggan juga dituntut harus kuat secara fisik, karena pementasan Jonggan ini biasanya dilakukan bermalam-malam sampai para penonton sepi. Kepiawaian menari dan berbalas pantun juga dituntut dari seorang We’jonggan. Ada juga yang menggunakan minyak Kenyongnyong (minyak wangi), agar dalam menari We’ Jonggan dapat mengeluarkan aura yang menawan sebagai seorang biduan, sehingga memperoleh saweran yang banyak. Penari Jonggan yang sudah menikah biasanya berhenti menjadi We’jonggan, karena apabila sudah menikah maka ia harus mulai mengurus anak dan suami. Namun ada juga suami yang mengijinkan untuk tetap menjadi We’jonggan karena alasan untuk membantu perekonomian.

B. Fungsi Tari Jonggan Suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

Jonggan muncul pada awal masa kemerdekaan RI yang diperkenalkan dan diresmikan secara sah oleh camat Impan sebagai camat Sengah Temila waktu itu. Kemudian mulai berkembang dimasyarakat sebagai tarian hiburan rakyat, dan tari Jonggan mulai sering diundang diberbagai acara kerakyatan. Fungsi tari Jonggan yang paling tampak adalah fungsi tari sebagai hiburan.

Tari Jonggan dikenal masyarakat sebagai tari hiburan pelepas lelah bagi para pekerja yang membuat jalan setapak serta sebagai hiburan dalam acara-acara kerakyatan lainnya seperti acara pernikahan, acara syukuran atas panen padi, dan acara hari kemerdekaan. Tarian sebagai sarana komunikasi masyarakat. Ditarikan dengan tujuan menjalin kebersamaan antar individu, baik antara pria dan wanita, wanita dengan wanita. Tari Jonggan ini sebagai ungkapan kegembiraan masyarakat dan sangat dikenal karena menjadi satu-satunya hiburan yang ada di masyarakat Dayak Kanayatn pada tahun 50-an. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa fungsi Jonggan dari dahulu sampai sekarang tetap sebagai tari hiburan di masyarakat dayak Kanayatn. Sifat tari Jonggan masa dulu dan sekarang tetap sebagai bersifat menghibur, kegembiraan, melibatkan penonton untuk ikut menari, dengan busana yang sederhana, serta gerakan yang mudah diikuti. Hanya saja minat dengan hiburan tradisi ini mulai berkurang.

Jonggan dikenal sebagai tarian hiburan tradisi yang ada di masyarakat Dayak Kanayatn. Hal yang berkaitan dengan tradisi tidak terlepas dari ritual adat. Seseorang meminta Jonggan untuk pentas biasanya pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Ada yang tujuannya semata untuk hiburan, ada juga yang bertujuan untuk niat (nazar). Niat ini biasanya karena panen padi yang berlimpah sehingga petani yang mendapat panen yang berlimpah ingin mengucap syukur dan bersukacita atas apa yang didapatkan dengan mengundang Jonggan. Dalam tari Jonggan, ritual adat pada awal tarian sebelum Jonggan dipentaskan ini adalah dengan memotong ayam yang dikibas-kibaskan sambil membaca doa.

Ritual doa tersebut bertujuan untuk meminta ijin kepada binua (alam) bahwa akan ada acara besar dengan bunyi-bunyi musik dan lagu-lagu agar tidak mengganggu selama acara. Serta meminta berkat kepada Jubata agar pementasan Jonggan tersebut berjalan dengan lancar. Terdapat pula beberapa Roba (sesajen) yang di siapkan dan diletakkan dipanggung Jonggan selama acara berlangsung, seperti beras yang di simpan di dalam talam dan cawan, telur ayam kampung, rokok daun nipah, air putih dan daun sirih. Fungsi roba yang diletakkan diatas panggung selama Jonggan berlangsung juga untuk menangkal hal-hal buruk yang datang. Roba ada apabila tempat 8 acara dilaksanakan di alam terbuka atau lahan yang baru dan khusus dibuat untuk Jongan.

C. Bentuk Pertunjukan Tari Jonggan Suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Sengah Temilak Kabupaten Landak

Bentuk pertunjukan dalam sebuah tarian memiliki beberapa aspek-aspek penting, seperti aspek musik, aspek waktu pelaksanaan, aspek aspek rias dan aspek busana. Tari Jonggan memiliki ciri khas tersendiri seperti susunan secara garis besar berikut ini.

1. Sebelum melakukan Jonggan, biasanya yang mempunyai acara atau tuan rumah melakukan upacara adat singkat berupa doa kepada Jubata dan kepada binua (alam) untuk kelancaran acara.
2. Pemusik dan penari siap dipanggung
3. Beberapa We’ jonggan keluar berbaris dan memberikan hormat pada saat peluit pertama ditiup.
4. Lagu pertama yang dilantunkan adalah lagu We’ jonggan, sebagai lagu pembukaan.
5. Untuk lagu selanjutnya biasanya pihak tuan rumah atau panitia penyelenggara maupun aparat desa yang menari bersama.
6. Lagu yang dinyanyikan dalam tari Jonggan biasanya berdasarkan permintaan dari pengebeng yang mengirimkan note atau memo kepada ketua Jonggan atau pembawa acaranya. Note tersebut adalah media untuk memesan lagu-lagu pada tari Jonggan.
7. Apabila ada penonton yang ingin ikut menari ke atas panggung, maka harus mengirimkan note terlebih dahulu yang kemudian di baca oleh pembawa acara, setelah itu baru dipanggil ke panggung untuk menari bersama sambil mencari pasangannya.
8. Peluit akan ditiup apabila terjadi hal yang tidak diperbolehkan seperti terlalu dekat jarak antara penari dan pengebeng (penonton) maupun pada saat pergantian We’ jonggan. Namun, apabila pola lantai We’jonggan dan para pengebeng melingkar (payung), maka tidak ada peluit.
9. Penonton yang tidak menulis note diperbolehkan ikut menari di arena luar panggung.
10. Tari Jonggan akan berhenti apabila penonton atau penari serta pemusiknya sudah lelah. Biasanya apabila permintaan masih ada tetapi penari Jonggan sudah lelah, maka permintaan akan ditutup.dan Jonggan akan berakhir sampai lagu terakhir yang diterima oleh pembawa acara selesai.

Dalam bejonggan penari pria dan wanita menari berpasangan sambil berbalas pantun. Inilah yang menjadi kelebihan sebagai penari Jonggan, karena selain bisa menari mereka juga harus bisa menanyi berbalas pantun yang seringkali tercipta secara spontanitas. Jonggan saat ini tidak lagi mengharuskan bisa berbalas pantun, karena biasanya memiliki anggota yang hanya khusus menyanyi.

Penari dan pemusik Tari Jongan

Aspek-aspek pendukung yang tidak terlepas dalam Jonggan adalah aspek musik pengiring, aspek waktu, aspek rias dan busananya sebagai berikut.

1) Aspek Musik Pengiring Tari Jonggan
Dalam tari Jonggan, alat musik yang digunakan sebagai pengiringnya adalah dau (kenong), agukng (gong) dan gadobong (gendang) serta apabila ada yang bisa memainkan biasanya juga menggunakan duling atau suling. Dau (kenong) biasanya terdiri dari dau anak dan induknya, terdapat delapan buah dengan tangga nada yang terdapat di dau adalah do, re, mi, so, la, do re, mi.

2) Aspek Waktu Pelaksanaan Tari Jonggan
Tari Jonggan pada awal kemunculannya setelah secara resmi disahkan oleh camat Limpan tahun 50-an, Jonggan dilaksanakan pada malam hari. Biasanya dimulai pada pukul 19.00 WIB atau pukul 20.00 WIB, tergantung dari banyaknya penonton yang sudah hadir dan akan berakhir sesuai dengan kondisi ramai atau tidaknya penonton dan pengebeng. Dapat dikatakan sudah ramai apabila penontonnya sudah memenuhi kurang lebih tiga sampai empat baris memanjang di depan panggung dan akan berakhir apabila sudah tersisa kurang lebih dua baris penonton serta tidak ada lagi note yang dikirimkan penonton kepada pembawa acara. Note berfungsi untuk pemesanan lagu yang di siapkan oleh anggota Jonggan untuk penonton yang akan menjadi Pengebeng.

3) Tata rias

We’ jonggan menggunakan rias cantik, agar dapat banyak menarik para tamu yang datang untuk ikut menari. Busana yang digunakan We’ jonggan adalah setelan kebaya dengan selendang yang di selempangkan di badan penari. Kebaya yang di gunakan biasanya terbuat dari brokat dengan motif yang padat. Ada juga kebaya yang menggunakan kain polos biasa tanpa brokat, hanya saja modelnya masih tetap seperti kebaya

4) Gaya Kepenarian Tari We’jonggan Berdasarkan Musik pengiring
Pada awal tarian Jonggan ini wasit meniupkan peluit tanda pertunjukan akan dimulai dengan posisi penari berbaris menghadap penonton yang diawali terlebih dahulu dengan memberi hormat kepada penonton. Penari-penari atau We’Jonggan diperkenalkan kepada penonton agar para calon Pengebeng tertarik untuk ikut menari. Gerakan awal posisi kaki pada tari Jonggan diawali dengan kanan menapak ke depan kemudian disusul dengan kaki kiri lalu kaki kanan mundur dengan kaki kiri tetap pada posisinya dan diakhiri dengan tapak kaki kiri diangkat dan posisi tumit kiri ke lantai. Gerak ini sering digunakan pada saat We’jonggan menari dengan Pengebeng.

Tarian Jonggan ini biasa diawali dengan We’jonggan yang membuka tarian dengan lagu yang berjudul “We’jonggan” lalu kemudian We’jonggan mengajak Pengebeng untuk menari bersama dan diikuti oleh penonton yang ada. Posisi tarian ini ada yang berhadapan ada pula yang melingkar atau dengan membentuk lingkaran besar. Gerakan kedua adalah menggerakkan tangan atau mengayunkan kedua tangan kearah atas dan bawah, dengan posisi awal tangan kiri didepan dada dan tangan kanan sedikit direntangkan kesamping dan diungkel kearah kanan satu kali dan kiri satu kali dengan posisi kaki menekuk sesuai dengan irama lagu. Gerakan tangan terus mengalir kekiri dan kekanan sampai pada level merendah (jongkok) kemudian berdiri kembali. Dilakukan berulang-ulang sesuai dengan lagu yang dimainkan. Biasanya gerakan ini adalah gerakan pembuka pada tari jonggan yang diiringi dengan lagu We’Jonggan.