Konsep Husnudzon/Berpikir Positif melalui Implementasi Disiplin Positif Menuju Self Healing

oleh -74 views

KOLOM OPINI

Self Healing adalah proses menyembuhkan diri dari luka bathin dan kegagalan hingga trauma masa lalu yang mengganggu emosi. Menurut Lawson (2010) luka batin adalah suatu formatif dari pengalaman menyakitkan masa lalu yang dapat menentukan pandangan, sikap, emosi, dan reaksi seseorang. Dan menurut Rye & Pargament (2002) luka batin atau wounded heart adalah hati seseorang yang terluka karena pengalaman-pengalaman menyedihkan di sekitarnya.

Di setiap sekolah, pada jiwa setiap peserta didik sangat besar kemungkinan mereka memiliki luka bathin dan pengalaman kegagalan terhadap pencapaian akademik, lingkungan sosial, bahkan perundungan di sekolah atau masyarakat hingga berdampak pada emosional mereka.

Pengalaman traumatis yang mungkin pernah dialami oleh peserta didik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pelecehan fisik atau seksual, kekerasan, pengabaian, atau perceraian orang tua, kegagalan dalam mencapai tujuan akademis dan kegiatan lain, masalah hubungan sosial dengan rekan sekolah atau di masyarakat, kematian keluarga dan orang terdekat yang disayangi dan hal – hal lain yang berdampak pada psikis mereka.

Ketika peserta didik mengalami luka bathin dan kegagalan serta membutuhkan self healing, maka mereka akan menunjukkan ciri perilaku seperti berikut :
1. Perubahan perilaku
2. Emosional yang labil dan bermasalah
3. Perubahan pola tidur dan makan
4. Menarik diri dari aktivitas sosial dan kegiatan sekolah
5. Ketidakmampuan mengekspresikan perasaan
6. Masalah fisik atau penurunan daya tahan tubuh
7. Menunjukkan kecemasan dan ketakutan berlebihan.

Upaya yang dapat dilakukan dalam meredakan self healing adalah dengan self talk dan self affirmation yang berorientasi dan berpusat pada pernyataan positif yang memotivasi. Pentingnya melakukan self talk dan self affirmation secara lahiriah karena setiap manusia memiliki setiap sel tubuh. Semua sel itu hidup dan ketika mendengar kalimat bernuansa positif akan membentuk struktur kimia yg sangat baik sehingga membantu regenerasi sel dan DNA dalam tubuh.

Dalam hal ini, guru memiliki peran sebagai penuntun yang membantu peserta didik untuk memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran positif dari apa yang telah terjadi. Ketika berhasil melakukan self healing, maka pribadi yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, dan trauma di masa lalu akan terbentuk pada diri peserta didik. Dan dalam aksinya adalah dengan menanamkan dan menguatkan konsep husnudzon / berpikir positif pada diri peserta didik sebagai implementasi pada disiplin positif di sekolah.

Husnudzon/berpikir positif adalah perilaku serta perspektif yang melibatkan sikap positif dan asumsi yang baik dengan dibekali hati yang bersih dan tindakan yang thahadhdhur (menjunjung tinggi akhlak mulia). Selain mampu menghadirkan ketenangan hati, husnudzon / berpikir positif juga dapat membentuk kepribadian yang sabar, mandiri, gigih, dan pantang menyerah.

Kepribadian yang demikian adalah karakteristik maupun perilaku yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Yang dipengaruhi dan tumbuh oleh lingkungan sosial yang baik di masa pertumbuhan peserta didik.

Dengan menjadikan konsep husnudzon / berpikir positif sebagai barometer dalam implementasi disiplin positif di lingkungan sekolah, maka hal tersebut adalah sebagai bentuk upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menuntun dan membantu peserta didik untuk melatih self healing terhadap luka bathin dan kegagalan, yang bahkan dapat menimbulkan trauma serta menggangu emosi setiap peserta didik.

Ketika dalam mindset individu setiap peserta didik telah terkonsep husnudzon / berfikir positif, maka dalam Implementasi disipilin positif di sekolah akan mendapatkan aksesibilitas dalam mewujudkan lingkungan belajar yang sehat, kondusif dan positif.

Tuntunan dan pembiasaan terhadap hal – hal positif di sekolah, adalah peran besar yang harus dilaksanakan oleh setiap guru dalam menumbuhkan disipilin positif pada diri peserta didik. Hal ini dikarenakan guru dijadikan teladan dan panutan oleh peserta didik. Guru harus mencontohkan perilaku yang baik, jujur, adil, serta berkomitmen sesuai dengan kata dan perbuatan.

Dengan guru memberikan teladan positif, maka kedisiplinan peserta didik pun akan menjadi positif. Dengan melakukan tuntunan pembiasaan husnudzon pada setiap peserta didik, maka guru telah melakukan implementasi disiplin positif sebagai langkah menuju self healing pada peserta didik yang mengalami luka bathin dan kegagalan hingga mengganggu emosi mereka. Peserta didik akan menjadi pribadi yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, dan trauma di masa lalu. Mereka akan siap dengan segala yang dihadapadi di zaman akan datang dengan bekal kekutan dan kompetensi positif dalam diri mereka.

Penulis :
Umi Safitri
Guru SMAN 1 Menukung