MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) menggelar diskusi publik bertajuk “BEPEKAT” (Branding Kabupaten Melawi) di salah satu Ballroom Hotel di Nanga Pinoh, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian upaya mendorong penguatan branding Kabupaten Melawi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Diskusi ini bertujuan merumuskan citra dan identitas daerah yang kuat, berdaya saing, serta tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Acara dibuka oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Melawi, Jaya Sutardi. Dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Melawi, perwakilan organisasi non-pemerintah (NGO), tokoh masyarakat adat, pemuda, hingga elemen masyarakat lainnya.
Kepala Bapperida Kabupaten Melawi, Silvani Umran, menyampaikan bahwa forum ini menjadi wadah partisipatif untuk menghimpun aspirasi publik dalam penyusunan strategi branding yang selaras dengan visi pembangunan daerah.
“Tujuannya adalah memastikan strategi branding yang disusun memiliki keterikatan kuat dengan visi jangka panjang daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Melawi, Jaya Sutardi, menegaskan bahwa identitas daerah harus memiliki landasan yang kokoh.
Menurutnya branding daerah akan menjadi acuan penting dalam perencanaan pembangunan ke depan.
“Melawi bukan sekadar membangun slogan, tetapi merumuskan identitas daerah yang berbasis data, kajian akademik, dan kesepahaman bersama,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan Forum Pembangunan Berkelanjutan Melawi (FPBM), Nasihin, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki misi untuk mendorong arah pembangunan Kabupaten Melawi yang berkelanjutan.
“Tugas kami adalah mengadvokasi para pihak agar Melawi memiliki branding dan identitas yang jelas. Melalui diskusi “BEPEKAT” ini, diharapkan dapat dirumuskan poin-poin strategis terkait identitas daerah berbasis kajian akademik dan analisis SWOT yang komprehensif,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa diskusi mengenai pembangunan berkelanjutan tidak hanya dilakukan melalui forum resmi, tetapi juga dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan lainnya guna menarik peluang dari luar daerah. Hal ini penting mengingat sekitar 70 persen wilayah Melawi merupakan kawasan hutan.
“Kondisi ini sering dianggap sebagai hambatan pembangunan. Namun, melalui pendekatan yang tepat, hambatan tersebut dapat diubah menjadi peluang. Branding diharapkan mampu membuka peluang tersebut,” jelasnya.
Dalam diskusi ini, turut hadir akademisi dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Aji Ali Akbar, yang juga merupakan dosen Magister Lingkungan, sebagai narasumber.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa branding Kabupaten Melawi harus berpijak pada prinsip strong sustainability, di mana lingkungan hidup menjadi fondasi utama yang menopang aspek sosial dan ekonomi, yang didasarkan pada karakter unik atau kearifan lokal daerah.
Selain itu, branding daerah juga diharapkan terintegrasi dengan upaya pengurangan risiko bencana, seperti penanganan banjir dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mampu mendorong pembangunan yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan, termasuk dalam pengembangan potensi ekowisata dan ekonomi hijau.












