Artikel Penelitian Tarian Tradisi Penggalian Tari Dayak Kalbar di Desa Madya Raya Kabupaten Melawi

oleh -110 views

DESA MADYA RAYA
Kabupaten : Melawi
Kecamatan : Sayan
Luas Wilayah : 6 Km2
Jumlah Penduduk : 1029 Jiwa
Jumlah Kepala Keluarga : 302 Jiwa
Jarak Desa ke Kal-Teng : 12 Km2
Mayoritas Agama : Kristen Protestan
Mata Pencaharian : Perkebunan dan Pertanian
Sumber Mata Air : Sungai Kompi
Kode Pos : 78763
Sub Suku : Dayak Keninjal

Orang Keninjal kadang disebut juga sebagai orang Kenyinyal. Mereka diduga berasal dari Sungai Keninjal di Batu Buil Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi. Mereka merantau ke daerah Sungai Pinoh karena melarikan diri dari penjajahan Belanda melalui perpanjangan tangan mereka yaitu Kerajaan Melayu di Sepauk beberapa ratus tahun yang lalu. Namun ada juga versi yang mengatakan mereka hijrah ke daerah Sungai Pinoh dan anak-anak sungainya karena pada waktu itu daerah ini masih sedikit penghuninya. Tempat tersebut merupakan lahan yang cocok untuk bercocok tanam karena tanahnya sangat subur dan belum berpenghuni. Mereka tinggal di beberapa tempat, yaitu;

1. Di Kecamatan Belimbing, mereka berada di Nanga Tikan, Nanga Keberak, Langan, Upit, dan Batu Ampar.
2. Di Kecamatan Sayan, mereka tersebar di Nanga Sayan, Desa Landau Sadak,dan Madya Raya, yaitu di Dusun Nusa Onap.
3. Di Kecamatan Tanah Pinoh mereka berada di Ribang Semalam, Ulak Muid, Durian Jaya, dan di Desa Bina Jaya, yaitu di Kampung Petai dan di Rompan.
4. Di Kecamatan Sokan, orang Keninjal tinggal di pinggir Sungai Betangai,yaitu di Nanga Betangai, Nanga Sokan, Potai, Begansa, dan Beganduk.

Untuk mengunjungi pemukiman orang Dayak Keninjal ini bisa melalui dua jalur, yaitu jalur darat dan jalur sungai. Jika melalui jalur darat, maka jaraknya sekitar 90 kilometer dari Nanga Pinoh. Namun jika di capai melalui air Sungai Pinoh dan anak-anak sungainya, maka bisa memerlukan waktu selama satu sampai dua hari perjalanan dengan mengendarai motor temple. Sungai Pinoh sangat deras dengan banyak riam yang sangat berbahaya. Bahasa yang digunakan oleh orang Keninjal disebut bahasa Keninjal. Dalam bahasa ini seringkali muncul kata nabut yang artinya ‘tidak ada’. Dengan demikian, bahasa mereka juga seringkali disebut sebagai bahasa nabut. Orang Keninjal diperkirakan berjumlah 9.989 jiwa yang terdiri dari 3.524 jiwa di Kecamatan Sayan atau 26% dari jumlah penduduknya, 2.762 jiwa di Kecamatan Tanah Pinoh atau 12,97% dari jumlah penduduknya, 1.552 jiwa di Kecamatan Sokan atau 12,32% dari jumlah penduduknya serta 2.151 jiwa di Kecamatan Belimbing atau 10,36 % dari jumlah penduduk kecamatan

Kami menggali seni tari tradisi asli dari daerah Melawi,tepatnya di daerah perbatasan antara Kalimantan barat dengan Kalimantan Tengah yaitu Desa Madya Raya,kecamatan Sayan. Jarak tempuh dari kota Melawi ke daerah tersebut ± 4 sampai 5 jam yang di tempuh dengan kendaraan seperti motor,itupun pada saat kemarau atau jalanan kering. Medan yang di tempuh lumayan ekstrim meskipun pada saat panas terik,jalanan yang mengelilingi beberapa bukit dan menyeberangi beberapa aliran sungai. Di daerah Madya Raya tersebut masih ada beberapa tarian asli setempat seperti komang panan, kecapak dan kekek. Dalam penggalian ini kami menggali lebih lanjut lagi tentang tarian Komang Panan. Kebetulan pada saat kami datang ke daerah tersebut,disana ada yang sedang mengadakan acara pernikahan. Malam sebelum hari pernikahan tersebut dilaksanakan, masyarakat di desa Madya Raya masih menggunakan cara adat istiadat yang mana di sebut dengan “NGITUNG ADAT”, dalam adat ini yang di gunakan yaitu adat Dayak keninjal.

A. Tari Komang Panan
Tarian Komang Panan merupakan tarian asli khas sub suku dayak keninjal yang hanya berkembang di kawasan daerah kabupaten Melawi saja. Tarian ini termasuk tarian pergaulan yang tidak memiliki filosofis khusus yang menitikberatkan pada taran ini, tarian ini bermula pada zaman dulu ketika ada acara disebut mulailah para lelaki betobah (betabuh) alat musik yang ada seperti klenang,gong dan gendang. Turunlah dua pasang orang untuk menari di tengah keramaian,tarian inilah yang sampai skarang masih ada di tengah-tengahmasyarakat Melawi saat ini.tarian ini biasanya di tampilkan pada saat ada acara pernikahan, menoik menantu (menerima menantu di rumah) dan penyambutan tamu. Tarian ini selalu ditampilkan pada saat yang berbahagia.

Motif gerak yang digunakan tidak memiliki nama secara khusus,gerakannya sangatlah monoton dimana lebih banyak mengkakukan badan terutama bagian perut dengan posisi tangan terbuka seperti merentangkan tangan. Tangan di angkat setinggi bahu, arah putaran atau ungkelan tangannya tidaklah ditentukan tetapi dengan keadaan jari tangan yang agak merapat (tidak membuka lebar pada bagian jari). Kaki para penarinya untuk perempuan tidak dibuka lebar melainkan dikepit (ditutup) dan untuk lelaki kakinya agak membuka separti berjalan kecil. Tarian ini dilakukan secara berpasangan dan berhadapan sesama pasangan.


Ditengah para penari ada salah satu orang yang ikut masuk kedalam tempat para penari sambil membawa cawan yang berisikan arak/tuak untuk diberikan atau disuguhkan kepada penari. Sebelum tarian dan musik mulai,pertama yang dilukukan adalah bepantun/berpantun terlebih dahulu. Setelah tarian selesai juga di akhri dengan pantun. Pantun pada awal tarian di bunyikan oleh pemain musiknya,sedangkan pada akhir tarian di unyikan oleh para penari. Pada umumnya setiap pantun disemua daerah sama,bersajak A-B-A-B. Yang membedakannya yaitu pada nada lagunya yang sedikit memberikan ciri khas dayak setempat. Nada yang digunakan dalam melagukan pantun ini biasanya hanya satu nada saja (tergantung pelantunnya).

B. Motif gerak

Dalam tarian Komang Panan ada dua motif gerak yang di milikinya. Yang masing masingnya tidak memiliki nama khusus dari daerah setempat. Seperti tarian taradisi daerah lainnya,tarian Komang Panan di awali dan di akhiri dengan memberikan hormat kepada penari lainnya yang berada di panggung. Terdapat empat penari yang berada di panggung yng saling berhadapan (perempuan dengan perempuan,laki-laki dengan laki-laki). Pada saat musik mulai ditabuhkan (dimainkan) para penari saling memberi hormat kepada pasangannya masing-masing dengan berjabat tangan seperti salam biasa dengan posisi tubuh yang agak membungkuk. Setelah nitu mereka kembali ke posisi mereka masing-masing dan mulai menari.

C. Pantun dan Kostum

Lagu atau pantun yang di gunakan dalam tarian ini biasanya tergantung acara apa yang sedang berlangsung. Misalnya pada acara pernikahan, pantun yang biasa digunakan yaitu pantun tentang kedua mempelai yang sedang berbahagia ataupun dapat berupaa pesan dari kedua orangtua mempelai. Tentunya suasana yang ada yaitu bahagia,begitu juga ekspresi para penari yaitu ekspresi bahagia.

Contoh pantun dapat di lihat pada video yang menyertai tulisan ini. Pantun yang meniringi tarian ini biasanya menggunakan bahasa daerah setempat. Sedikit saja penggunaan bahasa Indonesia di dalamnya. Pantu n yang di lantunkan tetap bersajak ABAB meskipun di lantunkan menggunakan bahasa daerah setempat.

Kostum yang di gunakan pada saat ini sudah cukup maju,mereka tetap menggunakan kain panjang yang mereka selempangkan di tubuh mereka bagi perempuan sedangkan yang lelaki di ikat di pinggang. Sebelum ada pakaian seperti saat ini,mereka masih menggunakan kain panjang untuk menutupi tubuh mereka. Maka dari itu sampai sekaraang mereka masih menggunakan kain tersebut dalam menarikan tarian ini. Pada pesta pernikahan kain yang di gunakan adalah kain seserahan pengantin.

Penulis dan Peneliti: Dwi Nurul Imanisa, S. Pd & Heni Wahyuni, S. Pd