Melawi  

Karhutla Hanguskan Puluhan Hektare Areal PT SDK, Lahan Replanting dan Pengawasan Jadi Sorotan

Wabup Melawi, Malin, bersama rombongan meninjau lokasi kebakaran perkebunan sawit PT SDK di Kecamatan Belimbing

MELAWINEWS.COM, BELIMBING — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kali ini, kebakaran terjadi di areal perkebunan kelapa sawit PT Sinar Dinamika Kapuas (SDK) di Kecamatan Belimbing, dengan salah satu blok yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare.

Kondisi tersebut terungkap saat Wakil Bupati Melawi, Malin, bersama Tim Sosialisasi Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Mabes TNI yang dipimpin Brigjen TNI Luqman Arief meninjau langsung lokasi, Jumat (4/9/2026). Peninjauan turut didampingi Wakapolres Melawi Kompol Aang Permana.

Di lapangan, tim melihat langsung areal yang terbakar. Lahan tersebut diketahui sedang dalam proses replanting atau penanaman kembali, setelah sebelumnya menjadi kawasan perkebunan yang telah berproduksi selama lebih dari 20 tahun.

Besarnya areal terdampak menjadi perhatian tersendiri. Malin mengatakan, berdasarkan keterangan dan kondisi di lapangan, kebakaran pada salah satu blok diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare. Sementara pada blok lainnya juga ditemukan areal yang mengalami kebakaran.

“Salah satu blok diperkirakan sekitar 50 hektare. Di blok lainnya juga mengalami kebakaran,” kata Malin.

Persoalannya, penanganan Karhutla tidak berhenti pada upaya memadamkan api. Kondisi lahan, khususnya apabila terdapat kawasan gambut, berpotensi membuat api sulit dikendalikan dan memungkinkan munculnya kembali titik panas apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat.

Malin mengatakan, pemadaman di lokasi melibatkan tim perusahaan bersama masyarakat. Mereka tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga menjaga kawasan, termasuk pada malam hari, untuk mengantisipasi munculnya kembali api.

“Dukungan tersebut dilakukan melalui pembagian tugas, termasuk penjagaan pada malam hari untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api,” ujarnya.

Namun, kejadian ini sekaligus memperlihatkan bahwa strategi penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika api sudah membesar. Pengawasan terhadap areal perusahaan, terutama kawasan yang sedang dalam proses replanting, menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran kembali terjadi.

Apalagi, akses menuju lokasi dan keterbatasan peralatan pemadaman disebut menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut dapat memperlambat proses pemadaman dan meningkatkan risiko kebakaran meluas apabila api tidak segera dikendalikan.

Malin menegaskan, pemerintah, perusahaan dan masyarakat harus memiliki tanggung jawab bersama dalam pencegahan dan penanganan Karhutla.

Menurutnya, upaya pemadaman harus berjalan beriringan dengan langkah pencegahan. Artinya, setelah api berhasil dipadamkan, kawasan terdampak tidak boleh langsung ditinggalkan tanpa pengawasan.

“Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan ketika api telah muncul, tetapi juga perlu disertai dengan pengawasan dan pencegahan agar api tidak kembali meluas,” tegasnya.

Peninjauan tersebut menjadi bagian dari evaluasi langsung Pemkab Melawi bersama unsur TNI-Polri terhadap penanganan Karhutla di lapangan. Kehadiran tim juga penting untuk melihat secara langsung kendala yang dihadapi petugas, termasuk kondisi medan, akses menuju lokasi serta kebutuhan peralatan.

Kebakaran di areal PT SDK ini pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan pemadaman api. Luasan lahan yang terbakar dan status kawasan yang merupakan areal perkebunan perusahaan menempatkan aspek pengawasan, kesiapsiagaan, serta pencegahan sebagai pekerjaan yang harus mendapat perhatian serius.

Malin pun mengingatkan seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul, bukan menunggu kebakaran membesar baru kemudian dilakukan penanganan.