MELAWINEWS.COM, MELAWI – Kerusakan parah jembatan kayu di Sungai Belawai, Desa Merah Arai, Kecamatan Pinoh Utara, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, kian mengkhawatirkan.
Sejumlah mobil dan warga dilaporkan pernah terperosok saat melintasi jembatan tersebut akibat kondisi kayu yang lapuk. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi pun didesak segera mengambil langkah konkret untuk menjamin keselamatan masyarakat.
Persoalan ini menjadi perhatian Anggota DPRD Kabupaten Melawi, Antonius Anen, saat melakukan peninjauan lapangan, Senin (12/10/2026). Peninjauan tersebut merupakan tindak lanjut atas aspirasi masyarakat yang mengeluhkan kondisi jembatan yang dinilai semakin membahayakan pengguna jalan.
Anen menilai, kerusakan jembatan tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan infrastruktur biasa. Selain menyangkut keselamatan warga, kondisi tersebut juga berpotensi menghambat aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada akses menuju kawasan perkebunan dan ibu kota kabupaten.
“Jembatan kayunya sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bahkan sudah ada beberapa mobil dan warga yang terperosok saat membawa hasil produksi kebun karet melintasi jembatan tersebut, lantaran kayu sudah busuk,” ujarnya.
Menurut Anen, jembatan tersebut memiliki peran strategis bagi masyarakat. Selain menjadi jalur pengangkutan hasil perkebunan, akses itu juga digunakan warga untuk menunjang mobilitas sehari-hari.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah tidak menunda penanganan hingga kerusakan semakin parah atau jatuh korban akibat kondisi jembatan yang tidak layak.
Anen berharap pembangunan atau perbaikan jembatan tersebut dapat segera direalisasikan melalui APBD Perubahan 2026. Menurutnya, aspirasi masyarakat yang telah disampaikan dan kondisi faktual di lapangan perlu menjadi pertimbangan serius dalam penentuan prioritas pembangunan daerah.
“Kita berharap usulan ini dapat segera ditindaklanjuti sehingga masyarakat bisa mendapatkan akses yang lebih aman dan layak,” kata Ketua Fraksi PDIP DPRD Melawi tersebut.
Keluhan serupa disampaikan Tokoh Masyarakat Desa Engkurai, Efendi Apat. Ia mengungkapkan, jembatan dengan panjang sekitar 25 meter dan lebar 4 meter tersebut selama ini belum pernah mendapatkan perbaikan dari pemerintah daerah. Pemeliharaan yang dilakukan sejauh ini hanya mengandalkan swadaya masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena jembatan bukan sekadar fasilitas penghubung antarkawasan, melainkan infrastruktur penting yang menopang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat lintas desa.
“Selama ini perbaikan hanya dilakukan melalui swadaya masyarakat,” ungkap Apat.
Ketergantungan pada swadaya warga untuk mempertahankan fungsi jembatan yang sudah mengalami kerusakan parah menunjukkan perlunya perhatian lebih serius dari pemerintah daerah.
Apalagi, kemampuan masyarakat untuk melakukan perbaikan secara mandiri tentu memiliki keterbatasan, baik dari sisi pembiayaan maupun aspek teknis keselamatan konstruksi.
Apat menjelaskan, manfaat jembatan tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat Desa Merah Arai. Warga Desa Merpak, Desa Sungai Pinang, Desa Engkurai, hingga masyarakat dari Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sintang, juga memanfaatkan akses tersebut.
Dengan cakupan pengguna yang cukup luas, kerusakan jembatan berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar apabila tidak segera ditangani. Terlebih, masyarakat membutuhkan akses yang aman untuk mengangkut hasil perkebunan, termasuk karet, serta menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Apat meminta Pemkab Melawi segera memberikan perhatian terhadap kondisi jembatan tersebut. Ia berharap penanganan tidak terus tertunda, mengingat jembatan itu memiliki fungsi penting bagi mobilitas dan perekonomian masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya perbaikan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, ketika kebutuhan masyarakat untuk melakukan perjalanan dan mengangkut berbagai keperluan berpotensi meningkat.
Persoalan ini semestinya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama dalam menentukan skala prioritas pembangunan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan keselamatan publik.
Kerusakan jembatan yang telah dikeluhkan masyarakat, ditambah laporan adanya kendaraan dan warga yang terperosok, menjadi sinyal bahwa penanganan tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan darurat secara swadaya.
Kini, masyarakat menanti realisasi, bukan sekadar pendataan dan janji perbaikan. Jembatan Sungai Belawai membutuhkan penanganan nyata agar beban pemeliharaan infrastruktur publik tidak terus-menerus dipikul oleh masyarakat melalui swadaya.












