MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Melawi di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat kebutuhan air bersih masyarakat semakin mendesak.
Kondisi tersebut mendorong Komunitas Pencinta Alam (KPA) Ciwanadri Melawi untuk turun langsung membantu masyarakat melalui program distribusi air bersih.
Situasi tersebut juga menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar warga, mulai dari konsumsi hingga sanitasi dan kesehatan.
Berdasarkan laporan organisasi periode 31 Agustus hingga 8 September 2026, KPA Ciwanadri Melawi telah menyalurkan sedikitnya 43.571 liter air bersih kepada masyarakat di sejumlah desa. Bantuan tersebut terdiri atas 609 galon berkapasitas 19 liter dengan total 11.571 liter, serta delapan tangki air berkapasitas 4.000 liter dengan total 32.000 liter.
Ketua Umum KPA Ciwanadri Melawi, Dea Kusumah Wardhana, mengatakan penyediaan air bersih menjadi salah satu perhatian utama organisasi karena dampak kekeringan tidak hanya menyulitkan aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan.
“Kami tidak ingin anak-anak dan orang tua harus terserang diare hanya karena kesulitan mendapatkan air bersih. Di tengah kekeringan dan karhutla seperti sekarang, air bersih menjadi kebutuhan yang sangat penting,” ujar Dea.
Menurutnya, distribusi air bersih tersebut telah menjangkau sejumlah desa dengan penerima manfaat sekitar 1.742 orang, berdasarkan kebutuhan sekitar 25 liter air per orang.
Dea menegaskan, bantuan tersebut bukan semata kegiatan sosial, tetapi merupakan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan paling mendasar masyarakat.
“Kami ingin bantuan ini sederhana, tetapi manfaatnya benar-benar dirasakan. Satu tangki air mungkin terlihat kecil, tetapi bagi keluarga yang sedang kesulitan mendapatkan air, itu sangat berarti,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, KPA Ciwanadri tidak bekerja sendiri. Distribusi air bersih melibatkan sejumlah relawan dan organisasi kemasyarakatan, di antaranya Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Relawan Ngumbai Semongat, Relawan BNR, dan Pramuka.
“Di lapangan kami bekerja sama dengan tim TAGANA, Relawan Ngumbai Semongat, Relawan BNR, dan Pramuka dalam membantu pendistribusiannya,” ungkap Dea.
Pada Selasa, 8 September 2026, KPA Ciwanadri kembali menyalurkan air bersih ke Desa Tanjung Tengang dengan kapasitas 4.000 liter.
Kepala Desa Tanjung Tengang, Slamet, menyampaikan apresiasi atas kepedulian tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada KPA Ciwanadri Melawi atas kepeduliannya membantu masyarakat Desa Tanjung Tengang mendapatkan air bersih. Kami juga mengapresiasi semua pihak yang telah membantu dalam penanganan karhutla di wilayah kami,” ujarnya.
Bantuan serupa juga mendapat respons positif dari Pemerintah Desa Kelakik. Kepala Desa Kelakik, Maman Rahmad, mengatakan distribusi air bersih sangat membantu masyarakat yang mulai kesulitan memperoleh sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Bantuan ini sangat membantu masyarakat kami, terutama di tengah kondisi kekeringan seperti sekarang. Mudah-mudahan kepedulian seperti ini terus berlanjut dan semakin banyak pihak yang ikut membantu masyarakat,” sebutnya.
Air Bersih Jadi Kebutuhan Mendesak
Di tengah kekeringan yang berlangsung bersamaan dengan karhutla, persoalan air bersih menjadi salah satu kebutuhan mendesak masyarakat Melawi.
Bagi KPA Ciwanadri Melawi, distribusi air bersih merupakan bentuk kepedulian langsung kepada masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.
Sebab, sebelum berbicara mengenai pembangunan dan berbagai kebutuhan lainnya, masyarakat harus terlebih dahulu dipastikan dapat memenuhi kebutuhan paling dasar: air untuk kehidupan dan kesehatan.
