Melawi  

Alarm Karhutla Melawi Berbunyi Lagi, 72 Hotspot Terdeteksi, Ella Hilir Mendominasi

Bencana Karhutla dan Kabut asap di Melawi belum usai. Sebaran Hospot disejumlah desa

MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, masih menjadi perhatian serius.

Data sebaran hotspot yang diolah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi dari sistem pemantauan SiPongi mencatat 72 titik panas hingga 6 September 2026.

Sebaran hotspot tersebut terdapat di lima kecamatan. Ella Hilir menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, mencapai 55 titik, disusul Belimbing 6 titik, Nanga Pinoh 4 titik, Pinoh Selatan 4 titik dan Menukung 3 titik.

Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Daniel, mengatakan sebaran titik panas tersebut menjadi indikator bahwa potensi Karhutla masih harus diwaspadai, terlebih kondisi kemarau dan kekeringan membuat lahan lebih mudah terbakar.

“Hotspot yang terpantau harus menjadi perhatian bersama. Setiap titik perlu ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya dan mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” ujar Daniel.

Berdasarkan rincian data BPBD Melawi, dari 55 hotspot di Kecamatan Ella Hilir, 32 titik berada di Desa Nanga Nyuruh dan 23 titik di Desa Nyanggau.
Sementara di Kecamatan Belimbing terdapat enam hotspot, masing-masing lima titik di Desa Sepan Tonak dan satu titik di Desa Batu Buil.

Di Kecamatan Nanga Pinoh, empat hotspot terdeteksi di Desa Labai Mandiri sebanyak tiga titik dan Desa Poring satu titik. Kemudian Kecamatan Pinoh Selatan mencatat empat hotspot, yakni tiga titik di Desa Pelinggang dan satu titik di Desa Mandau Baru. Sedangkan Kecamatan Menukung terdapat tiga hotspot yang seluruhnya berada di Desa Belaban Ella.

Dengan konsentrasi hotspot yang cukup tinggi di sejumlah desa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran belum sepenuhnya terkendali dan membutuhkan pengawasan berlapis mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa.

Daniel menegaskan, penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pemantauan, groundcheck, patroli serta pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Dampak yang paling dikhawatirkan adalah ketika kebakaran meluas dan asap semakin pekat. Karena itu, pencegahan harus dilakukan bersama. Masyarakat kami minta tidak melakukan pembakaran lahan, terutama dalam kondisi cuaca yang sangat kering,” ajak Daniel.

BPBD Melawi mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran maupun titik api di sekitar permukiman, lahan pertanian, perkebunan maupun kawasan hutan.

Daniel juga menyampaikan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan sinergi berbagai unsur melalui patroli, pemadaman dan groundcheck hotspot.