Kenang Pernah Diperiksa , Pj Sekda Nilai Posko Covid-19 Melawi Terbaik di Kalbar

oleh
Pj Sekda Melawi menyerahkan bingkisan pada masyrakat Batu Nanta yang membantu berjalannya Posko Terpadu Covid di Perbatasan Sintang-Melawi

MELAWINEWS.COM, Melawi – Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Melawi, Linda Purnama yang baru dilantik tiga hari lalu ternyata memiliki kenangan tersendiri atas Posko Terpadu Covid-19 yang baru saja dihentikan operasionalnya. Ia sempat melintasi posko tersebut lima hari lalu dan harus menjalani rapid tes, karena datang dari wilayah zona merah, Pontianak.

“Di Kalbar, bisa dikatakan posko yang ada di Melawi adalah posko terbaik. Saya dari Pontianak lima hari lalu, semestinya akan menemukan empat pos check point. Tapi dari perbatasan Pontianak-Kubu Raya , tidak ada pemeriksaan hingga saat akan masuk ke Melawi, kami harus diperiksa seperti di posko ini,” katanya.

Linda mengungkapkan saat ini dirinya diminta harus melakukan rapid tes, walau sebenarnya ia sudah membawa surat keterangan sehat dan hasil rapid tes dari Pontianak. Namun, ia tetap mengikuti aturan untuk dirapid tes kembali karena baru saja tiba dari zona merah.

“Penutupan ini menjadi keputusan berat yang diambil pemerintah, apalagi sekarang ada kekhawatiran masyarakat terkait pengendalian kasus konfirmasi positif Covid-19. Sehingga nanti akan ada langkah lebih lanjut yang harus dilakukan Gugus Tugas untuk tetap melakukan pengendalian Covid-19,” ujarnya.

Linda menuturkan, langkah strategis kedepan akan ditetapkan, terkait dengan kebijakan new normal yang akan diberlakukan oleh pemerintah. Namun, dirinya meminta seluruh pihak untuk tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan. Peran pemantauan dan sosialisasi terkait hal ini nantinya akan diambil oleh tim gugus tugas di kecamatan dan desa.

Kepala BPBD Melawi, Syafarudin menjelaskan, penutupan Posko disebabkan karena anggaran posko hanya tersedia untuk dua bulan yakni April dan Mei. Sehingga suka tidak suka operasional posko berakhir hingga 30 Mei.

“Tapi kegiatan kita tidak akan berhenti disitu. Sesuai dengan rencana operasional bupati hingga 30 Juni. Selanjutnya akan dilakukan sosialisasi protokol Covid-19 pada masyarakat. Seperti yang dicanangkan presiden yakni New Normal,” katanya.

Dijelaskan Syafar, setelah ditutupnya posko, bukan berarti kegiatan penanganan Covid lantas berhenti. Namun justru kegiatan kedepan akan lebih berat lagi karena harus menyakinkan masyarakat untuk menjalani hidup normal ditengah pandemi.

“Bagaimana beraktivitas new normal dengan menggunakan protokol covid, wajib bermasker, wajib cuci tangan serta sosial distancing dalam seluruh kehidupan. Tidak ada keinginan kita untuk melemahkan,” ujarnya.