MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH — Di tengah kepungan asap dan kobaran api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi, persoalan yang dihadapi para petugas di lapangan ternyata bukan semata soal keterbatasan peralatan pemadaman.
Ada kebutuhan mendasar yang tak kalah penting seperti makanan dan minuman untuk menjaga stamina para personel yang berjam-jam bahkan berhari-hari berada di garis depan. Persoalan inilah yang disoroti Ketua Umum KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi, Dea Kusumah Wardhana.
Ia mendorong agar dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di daerah tersebut dapat dipertimbangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi Satgas dan relawan selama penanganan karhutla.
Menurut Dea, tidak logis jika keberhasilan operasi pemadaman hanya diukur dari berapa banyak pompa, kendaraan atau peralatan yang dikerahkan, sementara kondisi fisik orang yang mengoperasikan seluruh peralatan tersebut luput dari perhatian.
“Mereka berjuang dari pagi, siang, bahkan sampai malam. Api yang mereka hadapi bukan perkara kecil. Di tengah panas, asap dan keterbatasan air, mereka tetap bertahan. Jangan sampai urusan makan mereka justru terabaikan,” ujar Dea, Senin (31/8/2026).
Dea menilai, kebutuhan konsumsi bagi personel di lapangan tidak semestinya dipandang sebagai persoalan tambahan. Dalam operasi penanganan karhutla, makanan dan air minum merupakan bagian dari dukungan logistik yang menentukan kemampuan petugas mempertahankan stamina.
Ketika pemadaman berlangsung dalam waktu panjang, lanjutnya, kelelahan dapat menjadi persoalan serius. Karena itu, menurutnya, dukungan terhadap Satgas harus dipikirkan secara menyeluruh sejak personel diterjunkan hingga operasi selesai.
“Kalau dapur MBG bisa membantu menyiapkan makanan untuk para pejuang karhutla, tentu ini akan sangat berarti. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya butuh dukungan agar bisa terus bertahan di lapangan,” sebutnya.
Usulan tersebut, lanjut Dea, tidak dimaksudkan untuk menggeser tujuan utama program MBG. Sebaliknya, keberadaan dapur yang telah memiliki kemampuan produksi makanan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sumber dukungan ketika daerah menghadapi kondisi darurat.
“Konsepnya dapat ditempatkan dalam kerangka kolaborasi lintas sektor, dengan tetap memperhatikan aturan, mekanisme distribusi dan sasaran utama program MBG,” ujarnya.
Dea juga mengingatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, relawan, dunia usaha dan masyarakat harus memiliki peran dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Memadamkan api bukan hanya soal air dan selang pemadam. Kita juga harus memastikan orang-orang yang berada di garis depan tetap kuat untuk menjalankan tugasnya,” tegasnya.
Menurut dia, perhatian terhadap Satgas dan relawan tidak boleh baru muncul ketika kebakaran telah membesar dan asap mulai mengganggu masyarakat.
Justru sejak personel turun ke lapangan, kebutuhan mereka harus dipetakan dan dipastikan tersedia.
“Mari kita jangan hanya melihat mereka ketika api sudah besar. Perhatikan juga kebutuhan mereka ketika sedang berjuang. Secangkir air, sebungkus nasi, dan dukungan masyarakat mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka yang sedang berjibaku dengan api, itu adalah energi untuk terus bertahan,” ungkapnya.
Ia menyatakan, Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan titik api, luas lahan terbakar atau jumlah peralatan yang dikerahkan. Di balik setiap selang yang diarahkan ke kobaran api, terdapat manusia yang bekerja dalam kondisi panas, terpapar asap, kelelahan dan menghadapi risiko keselamatan.
Karena itu, KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi mengajak seluruh pihak melihat penanganan karhutla dari sisi yang lebih luas, seperti saat memadamkan api sekaligus menjaga mereka yang berada di garis depan tetap mampu bertahan.
“Sebab ketika api belum padam, perjuangan mereka belum selesai.
Dan ketika tenaga mulai terkuras, dukungan berupa makanan, air minum dan logistik bukan lagi sekadar bentuk kepedulian, melainkan bagian dari kekuatan untuk melanjutkan perjuangan,” pungkasnya.












