Melawi  

Deteksi Dini Konflik Sosial, Kemenag Melawi Gelar FGD dengan Berbagai Elemen Masyarakat

Kemenag Melawi menggelar FGD Penguatan Deteksi Dini Konflik Berdimensi Keagamaan, di Aula Panorama Alam Melawi

MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Melawi menggelar Focus Group Discustion (FGD) Penguatan Deteksi Dini Konflik Berdimensi Keagamaan, di Aula Panorama Alam Melawi, Selasa (22/7).

Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) di wilayah Melawi.

Forum ini menjadi ajang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, serta bebas dari potensi konflik keagamaan.

FGD ini juga bertujuan memperkuat pemahaman, meningkatkan sinergi, serta membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya deteksi dini terhadap konflik yang berpotensi mengganggu kerukunan antar umat beragama.

Plt. Kepala Kantor Kemenag Melawi, H. Fazli Aminuddin, dalam sambutannya menekankan bahwa konflik yang terjadi di tengah masyarakat dapat muncul dari berbagai faktor.

“Konflik seringkali lahir bukan semata-mata karena perbedaan agama, tetapi karena faktor sosial, ekonomi, bahkan hal-hal kecil yang kemudian berkembang menjadi masalah besar,” ujarnya.

“Karena itu, kita harus memiliki kesadaran untuk melakukan deteksi dini, agar persoalan bisa segera diselesaikan sebelum meluas,” sambungnya.

Menurutnya, salah satu akar masalah yang memicu konflik adalah fanatisme berlebihan dan ketidakmampuan menerima perbedaan.

Dikatakan, konflik bisa muncul ketika ada pihak yang merasa paling benar, baik secara individu maupun kelompok.

“Jika kita tidak bisa menghargai perbedaan dan menahan ego, maka gesekan kecil dapat berkembang menjadi konflik yang lebih luas, bahkan berpotensi memecah kerukunan umat beragama,” tegasnya.

Sementara, Ketua Panitia FGD, H. M. Desi Asiska, dalam laporannya mengungkapkan bahwa konflik keagamaan di masyarakat seringkali bermula dari persoalan yang terkesan sepele.

Desi mengurai, berapa kasus konflik keagamaan bermula dari masalah yang sederhana, misalnya perkelahian antar anak muda. Karena mereka berbeda suku, konflik kecil ini kemudian merembet dan dibawa ke isu agama.

“Hal seperti ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan dengan cepat dan bijak,” pesannya.

Ia berharap melalui FGD ini, para peserta dapat merumuskan rekomendasi strategis yang dapat dijadikan rujukan dalam mengantisipasi konflik di kemudian hari.

“Kita ingin hasil dari diskusi ini bukan sekadar wacana, tetapi menjadi pegangan bersama untuk membangun komunikasi, koordinasi, dan langkah-langkah pencegahan yang nyata,” imbuhnya.

Pantauan media ini, FGD berlangsung dalam suasana dialogis. Para peserta dari berbagai kalangan aktif memberikan pandangan dan berbagi pengalaman terkait upaya pencegahan konflik.

Dengan memahami faktor penyebab konflik sejak awal, diharapkan para peserta dapat segera mengambil langkah mediasi, memberikan edukasi, serta mendorong penyelesaian secara damai tanpa harus melibatkan kekerasan.

FGD ini diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk terus memperkuat komunikasi lintas agama, mengedepankan toleransi, serta meningkatkan peran semua pihak dalam menjaga kerukunan di Melawi.