MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH — Tekanan ekonomi masyarakat Kabupaten Melawi semakin terasa di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang masih melanda sejumlah wilayah.
Di saat masyarakat menghadapi gangguan aktivitas akibat kualitas udara, harga sejumlah kebutuhan pokok juga dilaporkan mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut diperparah dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah titik serta tingginya harga LPG 3 kilogram. Situasi ini membuat biaya hidup masyarakat semakin berat, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
Kondisi Melawi saat ini tidak hanya menyangkut persoalan harga pangan. Dampak karhutla dan kabut asap juga menambah persoalan sosial ekonomi masyarakat.
Untuk membantu menjaga keterjangkauan harga sekaligus menekan tekanan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Barat menggelar Operasi Pasar di halaman Rumah Jabatan Bupati Melawi, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung Ketua TP PKK Kalimantan Barat, Erlina Ria Norsan, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Melawi, Raisya Sarbina Dadi.
Operasi pasar menyediakan paket kebutuhan pokok yang terdiri dari beras premium 5 kilogram, gula pasir premium 1 kilogram dan minyak goreng premium 1 liter. Dalam kegiatan tersebut, harga normal paket yang tercantum sebesar Rp 121.500, namun masyarakat dapat memperolehnya dengan harga khusus Rp 90.000 per paket.
Dalam situasi seperti ini, operasi pasar bukan sekadar menyediakan sembako murah, tetapi juga menjadi instrumen untuk menahan gejolak harga dan menjaga daya beli masyarakat.
Kenaikan harga BBM di tingkat pengecer, misalnya, dapat berdampak langsung terhadap ongkos transportasi maupun biaya distribusi barang. Ketika biaya distribusi meningkat, tekanan terhadap harga kebutuhan pokok pun semakin besar. Begitu pula LPG 3 kilogram.
Komoditas yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku usaha kecil tersebut menjadi persoalan ketika ketersediaannya terbatas dan harga di tingkat konsumen meningkat.
Erlina Ria Norsan dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya kehadiran pemerintah di tengah kondisi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Operasi pasar diharapkan dapat memberikan akses terhadap bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus membantu mengendalikan inflasi daerah.
“Program ini menjadi salah satu bentuk intervensi untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau, terutama ketika daya beli masyarakat sedang tertekan akibat kenaikan berbagai kebutuhan,” ujar Erlina
Sementara itu, Raisya Sarbina Dadi turut mendampingi pelaksanaan kegiatan sebagai bagian dari upaya memastikan masyarakat Melawi memperoleh manfaat langsung dari intervensi pasar tersebut.
“Operasi pasar setidaknya menjadi langkah konkret untuk memberikan ruang bernapas bagi masyarakat di tengah tekanan harga dan situasi daerah yang belum sepenuhnya pulih dari dampak kemarau dan karhutla,” ujar Raisya.
Raisya menyatakan, persoalan yang dihadapi masyarakat Melawi saat ini jauh lebih kompleks karena menyangkut karhutla, kabut asap, distribusi energi, daya beli dan stabilitas harga kebutuhan pokok.
Karena itu, intervensi harga perlu berjalan beriringan dengan pembenahan distribusi BBM dan LPG, pengawasan harga di tingkat pengecer, serta memastikan pasokan bahan pokok tetap tersedia.












