MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH — Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Melawi melalui Kelompok Kerja (Pokja) I kembali menggelar pengajian dan pembinaan keagamaan bagi masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Melawi, Jumat (4/9/2026), tersebut mengangkat tema “Menjaga Bumi Adalah Ibadah, Islam Melarang Merusak Alam.”
Agenda ini menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan karakter keluarga sekaligus menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, khususnya di tengah kondisi Kabupaten Melawi yang masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Ratusan peserta dari berbagai organisasi perempuan Islam tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Hadir pula perwakilan Bhayangkari, Persit, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Dharma Wanita Persatuan (DWP), PI DPRD, serta organisasi perempuan Jawa, Minang dan Melayu.
Kegiatan dirangkai dengan siraman rohani dan tausiyah oleh Ustadzah Siti Khodijah. Selain itu, peserta mendapatkan paparan mengenai dampak Karhutla terhadap kesehatan yang disampaikan dr. Hie Sukiyanto, dokter spesialis paru. Agenda dilanjutkan dengan salat Ashar berjamaah, tilawah, doa bersama dan makan bersama.
Mewakili Pokja I TP PKK Kabupaten Melawi, Puspawati, mengatakan kegiatan pengajian dan pembinaan keagamaan tersebut merupakan bagian dari upaya TP PKK dalam memperkuat ketahanan karakter keluarga sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
“Kita berharap nilai-nilai agama yang disampaikan hari ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya karhutla,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Melawi, Raisya Sarbina Dadi, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda pembinaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepedulian sosial dan lingkungan.
Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia. Ketika lingkungan kita jaga, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan, kesehatan dan masa depan anak-anak kita,” ungkapnya.
Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan dan perilaku yang peduli terhadap lingkungan. Karena itu, pesan keagamaan mengenai larangan merusak alam perlu terus disampaikan hingga ke lingkungan keluarga.
Raisya juga mengajak seluruh organisasi perempuan yang hadir untuk menjadi bagian dari gerakan bersama dalam mencegah Karhutla.
“Mari kita mulai dari hal-hal sederhana. Ingatkan keluarga untuk tidak membakar lahan sembarangan, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Kepedulian kecil yang dilakukan bersama akan memberikan dampak besar,” tegasnya.
Menurutnya, nilai-nilai keagamaan harus mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata, termasuk menjaga lingkungan dan membantu masyarakat yang terdampak Karhutla.
Ia menambahkan, kondisi Karhutla yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama, termasuk meningkatkan kepedulian dari tingkat keluarga dan masyarakat.
Raisya juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap saat ini. Termasuk memakai masker jika beraktivitas diluar ruangan.
Dalam penggalan tausiyahnya, Ustadzah Siti Khodijah menekankan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam dan melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan.
“Menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Ketika kita menjaga alam, tidak merusaknya dan mencegah terjadinya kerusakan, maka kita sedang menjalankan amanah yang diberikan Allah kepada manusia,” jelasnya.
Sementara itu, dr. Hie Sukiyanto, dalam paparannya menjelaskan bahwa Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga membawa dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Paparan asap, terutama dalam kondisi kabut asap yang pekat, dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan.
“Asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai partikel dan zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki masalah atau penyakit pada saluran pernapasan,” jelasnya.
