Melawi  

BPBD Melawi Catat Kejadian Karhutla, Luas Area Terbakar Capai 1.539 Hektare dan 2.364 Hostpot

BPBD Melawi memastikan penanganan karhutla akan terus dilakukan secara intensif dengan mengutamakan pencegahan meluasnya titik api serta perlindungan terhadap masyarakat dari dampak asap

MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi mencatat situasi darurat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di tengah musim kemarau kering sepanjang 2026.

Berdasarkan laporan resmi penanganan karhutla per 26 Agustus 2026, tercatat 28 kejadian dengan estimasi total luas area terbakar mencapai 1.539,35 hektare. Selain itu, terdeteksi sebanyak 2.364 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Melawi.

Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Daniel, mengatakan tingginya intensitas karhutla di tengah kondisi kemarau ekstrem mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Asap.

Menurut Daniel, kondisi di lapangan masih menjadi tantangan bagi petugas, terutama karena terdapat sejumlah titik api yang belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Beberapa di antaranya berada di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, dan Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing.

Lebih kanjut Daniel menyampaikan berdasarkan data sebaran karhutla, Kecamatan Nanga Pinoh menjadi wilayah dengan jumlah kejadian sekaligus luas area terdampak terbesar. Tercatat 22 lokasi dengan total luas area terbakar mencapai 702,55 hektare.

Sementara itu, Kecamatan Belimbing berada di posisi berikutnya dengan luas area terdampak sekitar 408 hektare.

Sejumlah lokasi tercatat mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar, di antaranya Desa Nanga Kayan seluas 523 hektare, Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, sekitar 200 hektare, serta Desa Batu Nanta seluas 176 hektare.

“Untuk mencegah meluasnya dampak bencana asap, BPBD Kabupaten Melawi bersama Satuan Tugas (Satgas) Gabungan yang melibatkan TNI/Polri, relawan, dan masyarakat terus mengintensifkan upaya penanggulangan karhutla,” ujar Daniel, Kamis (27/8).

Langkah yang dilakukan, lanjut Daniel, meliputi patroli rutin di wilayah rawan karhutla, respons cepat terhadap titik api, penguatan koordinasi lintas sektor, serta penyisiran pasca pemadaman atau mopping up.

Ia menjelaskan, penyisiran tersebut dilakukan untuk memastikan bara api, termasuk yang berada di bawah permukaan tanah, benar-benar padam dan tidak kembali memicu kebakaran.

Daniel juga mengimbau masyarakat Kabupaten Melawi untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama selama kondisi cuaca masih kering.

“Kami terus mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Melawi agar meningkatkan kewaspadaan dan menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di tengah cuaca kemarau kering saat ini,” pesan Daniel.

Dikatakan, sinergi antara pemerintah, aparat, relawan, dan warga menjadi kunci utama dalam menekan laju atau tidak meluas karhutla di daerah.

“BPBD Melawi memastikan penanganan karhutla akan terus dilakukan secara intensif dengan mengutamakan pencegahan meluasnya titik api serta perlindungan terhadap masyarakat dari dampak asap,” pungkasnya.