Melawi  

Kualitas Udara Melawi Memburuk: Dinkes Melawi Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar, Ella Hilir Sangat Tidak Sehat

Karhutla Melawi belum usai menimbulkan kabut asap, memicu kualitas udara memburuk

MELAWINEWS.COM, MELAWI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Melawi mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul memburuknya kualitas udara akibat paparan partikulat di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan Dinkes Melawi menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 dan PM10 berada pada level sangat tinggi, khususnya di Desa Nanga Ella, Kecamatan Ella Hilir.

Berdasarkan pengukuran pada Senin, 14 September 2026 pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 556 µg/m³, sedangkan PM10 mencapai 2.055 µg/m³. Pengukuran dilakukan menggunakan alat particle counter dalam mode weighing mode.

Dinkes Melawi dalam informasi kualitas udaranya menyebut kondisi tersebut berada pada kategori sangat tidak sehat dan berisiko terhadap kesehatan masyarakat.

Kondisi serupa juga terpantau sehari sebelumnya di wilayah Nanga Pinoh. Pada Minggu, 13 September 2026 pukul 12.17 WIB, hasil pengukuran di Jalan Gelora Juang MTQ, Kenual, Kecamatan Nanga Pinoh, menunjukkan PM2.5 sebesar 368 µg/m³ dan PM10 mencapai 642 µg/m³.

Angka PM2.5 tersebut jauh melampaui pedoman WHO untuk paparan rata-rata 24 jam yang tercantum dalam informasi Dinkes, yakni 15 µg/m³.

Kepala Dinkes Melawi, Arif Santoso, menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan pembacaan sesaat menggunakan alat mini particle counter dan bukan penetapan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) resmi.

Meski demikian, tingginya konsentrasi partikulat menjadi indikator kuat bahwa masyarakat perlu meningkatkan perlindungan diri dari paparan asap dan debu.

Paparan partikulat PM2.5 dan PM10 dalam konsentrasi tinggi dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Arif menjelaskan, dampak yang perlu diwaspadai antara lain iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, mudah lelah, serta memperburuk penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis dan PPOK.

Lebih lanjut dijelaskan, kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, anak-anak dan lanjut usia, juga dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap dampak buruk polusi udara.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kualitas udara yang buruk berpotensi meningkatkan gangguan kesehatan masyarakat apabila paparan berlangsung dalam waktu lama.

Menghadapi kondisi tersebut, Arif mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi asap semakin pekat.

“Masyarakat yang terpaksa melakukan aktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95. Selain itu, pintu dan jendela rumah disarankan tetap tertutup untuk mengurangi masuknya asap dan partikulat dari luar, pesan Arif.

Ia juga meminta masyarakat menghindari aktivitas fisik berat di ruang terbuka, memperbanyak minum air putih, serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan.

“Jaga kesehatan diri dan keluarga serta lindungi lingkungan dari polusi udara,” menjadi pesan yang disampaikan Dinkes Melawi seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah,” pungkasnya.