MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Melawi terus memperkuat upaya deteksi dini HIV/AIDS melalui berbagai layanan kesehatan, termasuk di RSUD Kabupaten Melawi. Hingga tahun 2025, tercatat puluhan kasus HIV/AIDS berhasil terdeteksi melalui layanan tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Melawi, Puspawati, menyampaikan bahwa jumlah pasien HIV yang terdata melalui layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di RSUD Kabupaten Melawi mencapai 38 orang.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 orang merupakan laki-laki dan 18 orang perempuan. Dua di antaranya diketahui berasal dari luar Kabupaten Melawi,” ujar Puspawati, Sabtu (18/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa rentang usia pasien cukup bervariasi, mulai dari 14 tahun hingga 50 tahun, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Dikatakan, kasus HIV/AIDS juga ditemukan pada kalangan milenial, khususnya usia 14 hingga 25 tahun, serta cukup banyak terjadi pada kelompok usia 40 hingga 50 tahun. Namun, angka tertinggi masih didominasi kelompok usia 25 hingga 50 tahun.
Menurut Puspawati, peningkatan kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut dipengaruhi oleh perilaku hubungan seksual berisiko. Selain itu temuan kasus juga menunjukkan adanya peningkatan pada kalangan remaja.
Diketahui, lanjutnya, kasus HIV tidak hanya berasal dari penduduk lokal, tetapi juga dari pendatang atau pekerja luar daerah.
Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus HIV terjadi di kalangan masyarakat umum. Namun demikian, tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan HIV masih tergolong rendah, meskipun sosialisasi terus dilakukan oleh petugas layanan kesehatan.
Puspawati menilai, selain dari terdeteksi pasien 38 orang tersebut yang terserang HIV, kemungkinan masih ada masyarakat yang juga mengalami penyakit berbahaya itu, namun tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatannya.
“Kelompok yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV antara lain ibu hamil, pasien tuberkulosis (TB), wanita pekerja seks (WPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), pasien infeksi menular seksual (IMS), serta individu yang pernah melakukan kontak dengan penderita HIV/AIDS,” ujarnya.
Lebih lanjut, Puspawati menekankan pentingnya menjaga perilaku hidup sehat guna mencegah penularan HIV/AIDS, termasuk menghindari hubungan seksual berisiko di luar pasangan yang sah.
Ia menambahkan, dalam upaya menekan laju penyebaran HIV/AIDS, Dinkes Kabupaten Melawi menghadapi kendala keterbatasan anggaran, sehingga sejumlah program belum dapat berjalan optimal.
“Meski demikian, berbagai upaya sosialisasi mandiri tetap dilakukan sebagai langkah untuk menekan angka kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut,” pungkasnya.












