MELAWINEWS.COM, MELAWI – Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Melawi dalam beberapa waktu terakhir dilaporkan mengalami kelangkaan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat, terlebih menjelang Perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan 2026 yang semakin dekat.
Kelangkaan BBM, khususnya jenis Pertalite, turut menjadi perhatian Ketua DPRD Kabupaten Melawi, Hendegi Januardi Usfa Yursa.
Dampak dari terbatasnya pasokan ini terlihat dari melonjaknya harga eceran Pertalite di tingkat pengecer yang berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per liter, terutama di Kota Nanga Pinoh.
Selain itu, antrean kendaraan tampak mengular di sejumlah SPBU hingga berjam-jam. Di tingkat kios pengecer maupun Pertamina Mini, sebagian besar stok BBM dilaporkan kosong. Masyarakat pun terpaksa mencari bahan bakar dengan harga yang jauh di atas ketentuan.
Menanggapi situasi tersebut, Hendegi menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima penjelasan dari PT Pertamina Patra Niaga melalui Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun.
Disebutkan bahwa kelangkaan terjadi akibat terganggunya distribusi menyusul pendangkalan alur sungai yang dipicu turunnya tinggi muka air.
Akibat kondisi tersebut, kapal pengangkut BBM belum dapat sandar untuk melakukan bongkar muat di Fuel Terminal (FT) Sintang karena pertimbangan keselamatan pelayaran.
Hendegi menegaskan, dalam situasi seperti ini PT Pertamina perlu mengambil langkah antisipatif guna menjaga pelayanan kepada masyarakat, salah satunya dengan menambah kuota stok BBM bersubsidi untuk Kabupaten Melawi, khususnya pada musim kemarau.
Ia juga meminta pengelola SPBU agar menata kembali mekanisme pembelian BBM menggunakan galon maupun antrean untuk kepentingan usaha, sesuai prosedur yang berlaku, serta mengutamakan pelayanan kepada masyarakat umum. Didukung pengawasan melekat dari aparat keamanan setempat.
“Kami menghimbau para pelaku usaha SPBU agar pembelian BBM diprioritaskan bagi masyarakat umum, bukan untuk pengisian menggunakan galon dalam jumlah besar, mengingat distribusi ke setiap SPBU kemungkinan hanya satu tangki per hari,” ujar Hendegi, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, aktivitas usaha merupakan hal yang sah, namun tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat luas. Ketersediaan BBM merupakan kebutuhan vital, sehingga setiap hambatan distribusi harus segera diatasi demi menjamin pelayanan publik tetap berjalan optimal.
Ia menambahkan, kelangkaan BBM saat ini terpantau terjadi di wilayah Kota Nanga Pinoh. Sementara itu, di wilayah hulu seperti Kecamatan Sayan, Tanah Pinoh, dan Sokan, distribusi serta harga BBM masih relatif normal.
