MELAWINEWS.COM, MELAWI – Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, semakin langka dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini tidak hanya terjadi pada Pertalite, tetapi juga merambah ke Solar, Pertamax, dan Dexlite yang sulit ditemukan baik di SPBU maupun di tingkat pengecer. Dampaknya, harga BBM Pertalite eceran yang masih tersedia melonjak drastis hingga menembus Rp 30 ribu per liter.
Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian besar pedagang BBM eceran kosong, sementara masyarakat terpaksa berburu bahan bakar dengan harga yang tidak wajar.
PT Pertamina Patra Niaga melalui Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, menyatakan kelangkaan terjadi akibat terganggunya distribusi karena pendangkalan alur sungai menyusul penurunan tinggi muka air.
“Kondisi tersebut membuat kapal pengangkut BBM belum dapat sandar dan melakukan bongkar muat di Fuel Terminal (FT) Sintang karena faktor keselamatan pelayaran,” ujar Edi, dilansir dari KOMPAS.Com, Rabu (11/2/2026).
Selain itu, Pertamina mengaku tengah melakukan penyesuaian distribusi ke sejumlah lembaga penyalur di wilayah Sintang dan sekitarnya, termasuk Melawi, Kapuas Hulu, Sekadau, dan Sanggau.
Penyesuaian dilakukan akibat perubahan operasional jalur pengiriman dari titik suplai ke SPBU reguler, non-reguler, hingga Pertashop.
Namun, penjelasan tersebut menuai sorotan tajam dari Pemerintah Kabupaten Melawi. Wakil Bupati Melawi, Malin, menilai alasan pendangkalan sungai sebagai penyebab kelangkaan BBM tidak sepenuhnya dapat diterima.
Menurutnya, kondisi sungai surut merupakan fenomena musiman yang terjadi hampir setiap tahun saat kemarau, sehingga seharusnya sudah diantisipasi dalam perencanaan distribusi.
“Jika setiap musim kemarau alasan yang digunakan adalah sungai dangkal dan kapal tidak bisa beroperasi, lalu di mana manajemen mitigasi risikonya? Mengapa tidak memaksimalkan jalur darat sebagai alternatif distribusi?” tegas Malin, Jumat (13/2/2026).
Ia menilai ketergantungan pada satu jalur transportasi tanpa skenario cadangan menunjukkan lemahnya manajemen distribusi menjadi amburadul.
“Sebagai perusahaan yang telah lama beroperasi di Kalimantan Barat, Pertamina dinilai semestinya memahami karakteristik geografis daerah yang sangat bergantung pada dinamika musim,” bebernya.
Malin juga mengingatkan bahwa menyalahkan faktor alam sebagai penyebab tunggal berpotensi menutupi persoalan manajemen logistik yang lebih mendasar.
“Bahkan tidak menutup kemungkinan adanya praktik penimbunan atau pembelian dalam jumlah besar yang memanfaatkan situasi kelangkaan, hingga lemahnya pengawasan dari aparat keamanan,” lanjutnya.
“Kalau musim kemarau berkepanjangan dan debit air sungai menurun, apakah masyarakat harus dibiarkan tanpa solusi? Pertamina bukan perusahaan baru di daerah ini. Harus ada langkah antisipatif, termasuk distribusi melalui jalur darat,” sambungnya.
Malin pun meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM, khususnya dalam menghadapi kondisi musiman seperti kemarau.
Ia juga meminta pengawasan diperketat untuk mencegah potensi penimbunan atau pembelian dalam jumlah besar yang dapat memperparah kelangkaan.
