Melawi  

Yayasan Bahagia Santosa Raya Kelola 10 Dapur MBG di Melawi, Sasar 13 Ribu Penerima Manfaat

Ketua Yayasan Bahagia Santosa Raya, Iif Usfayadi, bersama karyawan di SPPG MBG Dapur Yanulsa Desa Manggala, Kecamatan Pinoh Selatan

MELAWINEWS.COM, MELAWI – Yayasan Bahagia Santosa Raya menjadi satu-satunya lembaga lokal sebagai mitra di Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat, yang mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui dapur mandiri. Selebihnya merupakan lembaga dari luar daerah.

Yayasan Bahagia Santosa Raya tersebut mengelola sebanyak 10 SPPG yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Belimbing, Belimbing Hulu, Pinoh Selatan, Pinoh Utara, Menukung, Sayan, Sokan, dan Tanah Pinoh Barat.

Ketua Yayasan Bahagia Santosa Raya, Iif Usfayadi, mengatakan bahwa saat ini dapur MBG yang telah beroperasi berada di Kecamatan Belimbing, Tanah Pinoh, dan Menukung. Sementara itu, sejumlah dapur lainnya dijadwalkan mulai beroperasi dalam beberapa hari ke depan, masing-masing di Kecamatan Pinoh Selatan, Sokan, Pinoh Utara, Tanah Pinoh Barat, Belimbing Hulu, serta Kecamatan Sayan.

Menurut Iif, khusus di Kecamatan Tanah Pinoh akan dioperasikan dua dapur MBG yang ditargetkan menjangkau sekitar 2.500 penerima manfaat. Saat ini, satu dapur MBG di kecamatan tersebut telah beroperasi.

“Apabila seluruh dapur MBG di 10 SPPG telah beroperasi penuh, program ini ditargetkan menjangkau sekitar 13.000 sasaran penerima manfaat. Sasaran tersebut meliputi peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta tenaga pendidik,” ujar Iif, Jumat (30/1).

Ia menjelaskan bahwa menu MBG disusun oleh tenaga ahli gizi dengan mengacu pada prinsip gizi seimbang. Menu tersebut terdiri atas nasi, tempe, sayur-mayur, buah-buahan, telur, ayam, serta berbagai bahan pangan bergizi lainnya. Selain itu, seluruh perlengkapan dapur telah disesuaikan dengan standar nasional, termasuk penyediaan armada distribusi.

“Namun, untuk wilayah dengan kondisi geografis tertentu seperti Kecamatan Tanah Pinoh Barat, distribusi MBG tidak memungkinkan menggunakan armada darat. Oleh karena itu, pihak yayasan menyiapkan sarana transportasi air berupa perahu atau speedboat guna memastikan kelancaran pendistribusian,” sebutnya.

Iif pun berharap pengelolaan dapur MBG oleh mitra dapat dilakukan secara profesional sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

“Kami berharap pengelolaan dapur dilakukan secara transparan, berkelanjutan, dan tepat sasaran. Program ini harus memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kesehatan, tetapi juga terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar,” tegasnya.

Terkait aspek teknis pelaksanaan, pihak pengelola memastikan akan terus melakukan evaluasi secara menyeluruh guna meningkatkan kualitas layanan dan memastikan penyaluran berjalan optimal serta tepat sasaran.

Iif menambahkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan ketentuan bahwa satu yayasan mitra Program MBG hanya diperbolehkan mengelola maksimal 10 dapur atau SPPG dalam satu wilayah yang sama.

Kebijakan tersebut bertujuan untuk menjamin profesionalisme pengelolaan, memperkuat pengawasan, mendorong pemerataan, serta mencegah potensi monopoli.

“Kebijakan ini untuk dapat memastikan kualitas layanan, akuntabilitas program, serta efektivitas operasional dapur MBG agar distribusi manfaat berjalan merata dan tepat sasaran,” pungkasnya.