MELAWINEWS.COM, MELAWI -Tumpukan sampah masih terlihat di sejumlah titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di wilayah Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. Sampah yang didominasi limbah rumah tangga tersebut menimbulkan bau tak sedap dan menuai keluhan dari masyarakat terhadap pengelolaan sampah oleh Pemerintah Kabupaten Melawi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Melawi, Oslan Junaidi, saat dikonfirmasi media ini menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan pengangkutan sampah yang menumpuk di sejumlah TPS.
“Saat ini beberapa titik sudah mulai kita angkut, seperti di depan PLN Sidomulyo dan area Pasar. Selanjutnya dilakukan secara bertahap di sekitar Dinas Kesehatan Melawi. Karena volume sampah cukup banyak, pengangkutan tidak bisa dilakukan sekaligus,” ujar Oslan, Kamis (8/1).
Oslan menyebutkan, peningkatan volume sampah dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya musim buah serta momentum perayaan Natal dan Tahun Baru yang baru saja berlalu.
“Volume sampah meningkat karena saat ini musim buah dan juga kemarin bertepatan dengan Natal dan Tahun Baru,” bebernya.
Lebih lanjut, Oslan mengungkapkan keterbatasan armada pengangkut menjadi kendala utama dalam penanganan sampah. Saat ini, DLH Melawi hanya memiliki empat unit truk yang masih dapat beroperasi.
“Armada menjadi salah satu kendala, sehingga tidak semua sampah bisa terangkut dalam satu hari,” ujarnya.
Selain persoalan armada, DLH Melawi juga tengah melakukan perbaikan kontainer sampah yang biasa ditempatkan di sejumlah TPS. Menurut Oslan, anggaran perbaikan baru tersedia pada akhir tahun lalu dan proses pengerjaan diperkirakan rampung dalam tiga hingga empat minggu ke depan. “Nantinya kontainer tersebut akan kembali kita tempatkan di TPS-TPS,” tambahnya.
Oslan juga menyinggung persoalan perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan, khususnya di sekitar TPS depan PLN Sidomulyo.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar sampah di lokasi tersebut bukan berasal dari warga setempat.
“Masyarakat di komplek tersebut umumnya sudah memiliki layanan pengangkutan sampah langsung ke rumah. Sampah di TPS itu kebanyakan dibuang oleh warga dari luar yang kebetulan melintas,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi melalui DLH diharapkan dapat segera mengatasi persoalan penumpukan sampah tersebut, baik dengan penambahan armada maupun optimalisasi pengelolaan TPS.
Selain itu, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan di Kota Nanga Pinoh.
Sejumlah warga mengaku terganggu dengan kondisi tersebut. Salah seorang warga Nanga Pinoh, Suhendra (51), mengatakan penumpukan sampah sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir dan menimbulkan bau menyengat, terutama pada siang hari.
“Kalau siang baunya cukup menyengat, apalagi dekat pemukiman dan jalan ramai. Kami berharap pemerintah bisa lebih cepat mengangkut sampah supaya tidak mengganggu aktivitas warga,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Susi, warga yang beraktivitas di sekitar kawasan pasar. Ia menilai penumpukan sampah dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
“Selain tidak sedap dipandang, sampah yang menumpuk ini juga dikhawatirkan menimbulkan penyakit. Apalagi banyak lalat. Kami minta DLH bisa lebih rutin melakukan pengangkutan,” pintanya.












