Pawai Pasukan Merah Hingga Tokoh Adat Kinipan Hadiri Rapimcab DPC Tariu Borneo Melawi

oleh
Bupati Panji membuka Rapimcab Tariu Borneo Kabupaten Melawi

MELAWINEWS.COM, Melawi -Jalanan Kota Nanga Pinoh dipadati oleh ratusan pasukan merah yang berjalan kaki. Pawai pasukan merah ini menjadi bagian dalam pelaksanaan Rapat Pimpinan Cabang DPC Tariu Borneo Bangkule Rajakng sekaligus peresmian sekretariat bersama pada Sabtu (12/9) kemarin.

Ketua DPC Tariu Borneo Kabupaten Melawi, Antonius Desa mengatakan Rapimcab yang digelar merupakan Rapimcab yang pertama digelar Tariu Borneo Melawi. Dalam Rapimcab yang diisi dengan seminar dan konsolidasi internal organisasi juga dilakukan pertanian sekretariat bersama di Jalan Provinsi Pinoh-Kotabaru KM IV atau di depan Emaus.

“Kami mengapresiasi kehadiran tamu undangan baik dari dalam serta luar Melawi, termasuk jajaran ketua dan pengurus DPP. Hadir juga dari DPC-DPC dari kabupaten di Kalbar hingga Kalteng,” katanya.

Anton, mengatakan Rapimcab digelar sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi Tariu Borneo Bangkule Rajakng. Rapimcab ini digelar di Gedung Serbaguna dan direncanakan berlangsung selama dua hari.

“Saat ini anggota yang tercatat sudah seribuan lebih. Kami juga mengangkat tema Peran Pemuda Dayak dalam pembangunan pemerintah, politik lokal dan nasional,” katanya.

Ditempat yang sama, Ketua DPP Tariu Borneo Kalimantan Barat, Agustinus menjelaskan visi misi organisasi ini menjadi wadah perjuangan membela adat dan masyarakat adat melalui adat dan budaya Dayak.

“Rapimcab Tariu Borneo di Melawi sangat spesial, semoga apa yang telah disiapkan bisa berjalan baik dengan persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Agustinus menegaskan Tariu Borneo dilarang ikut terlibat politik praktis. Semua anggota dilarang politik praktis. Kita tidak boleh berpolitik menggunakan atribut atau lambang untuk mendukung siapapun.

“Tapi kita boleh memilih, karena anggota punya hak politik. Hak politik adalah identitas kita. Kehadiran kita di Melawi agar mendorong Dayak menjadi pemimpin,” ujarnya.

Keberadaan Tariu Borneo, lanjut Agustinus yakni untuk berjuang mempertahankan tanah adat di Kalimantan. Tariu mengingatkan bahwa setiap etnis Dayak memiliki identitas dan jati diri Dayak. Lantaran hal ini pula turut hadir Tokoh Adat Dayak Kinipan, Efendi Buhing yang sempat viral beberapa waktu lalu karena aksinya mempertahankan tanah adat di desanya.

“Dengan bersatu kita pasti bisa menghadapi berbagai masalah,” katanya.

Sementara itu, Bupati Melawi, Panji menyatakan keberadaan lembaga adat untuk mempertahankan kehidupan bersama dalam satu lingkungan masyarakat Kalbar dan bagaimana adat dan budaya bisa dipersatukan dan dipertahan serta ditingkatkan.

“Untuk secara khusus organisasi ini menjadi sarana masyarakat Dayak membela dan mempertahankan kebenaran, nilai keadilan dan kemanusiaan, serta nilai nilai persaudaraan dan demokrasi pada tanah air tercinta,” katanya.

Terkait pelaksanaan Rapimcab, Panji menilai sudah sewajarnya rapat demi rapat harus dilakukan dan evaluasi harus diadakan untuk memurnikan motivasi kita sebagai bagian suku bangsa di Indonesia untuk ambil bagian di masa depan.

“Dayak harus ada di barisan depan bersama suku bangsa lain di negara ini. Kita harus menjadi sumber persatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan,” katanya.

Kehadiran Tariu Borneo, lanjut Panji menjadi mitra pemerintah menjaga kondusifitas daerah. Termasuk keamanan daerah.