Melawi  

Kemarau Hampir Dua Bulan, Kecamatan Tanah Pinoh Gelar Salat Istisqa dan Perkuat Pencegahan Karhutla

Solat Istisqo diikuti jajaran Forkopimcam, ASN, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, serta masyarakat setempat

MELAWINEWS.COM, TANAH PINOH — Pemerintah Kecamatan Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi, menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan sebagai ikhtiar spiritual menyikapi kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Imam Syafi’i, Desa Batu Begigi, Senin pagi (31/8/2026), diikuti jajaran Forkopimcam, aparatur sipil negara (ASN), organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, serta masyarakat setempat.

Salat Istisqa digelar di tengah kondisi kemarau yang telah berlangsung hampir dua bulan. Kekeringan dan suhu panas yang terjadi tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Usai pelaksanaan salat, jemaah mengikuti khutbah yang disampaikan imam dan dilanjutkan dengan doa bersama. Dalam doa tersebut, masyarakat memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang cukup, membawa keberkahan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Camat Tanah Pinoh, Budiman, mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan doa sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang terdampak kemarau.

“Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan Salat Istisqa di halaman Pondok Pesantren Imam Syafi’i. Hampir dua bulan kita dilanda kekeringan dan suhu panas, sehingga kondisi lingkungan menjadi kering dan dampaknya juga terjadi karhutla. Kami berharap melalui Salat Istisqa ini Allah SWT menurunkan hujan di Kecamatan Tanah Pinoh,” ujarnya.

Menurut Budiman, pelaksanaan Salat Istisqa bukan semata-mata bentuk ikhtiar spiritual, tetapi juga menjadi pengingat agar seluruh elemen masyarakat meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan selama musim kemarau.

“Ini menjadi ikhtiar kita bersama. Kita berdoa agar hujan segera turun, tetapi di sisi lain kita juga harus melakukan langkah nyata untuk mencegah terjadinya kebakaran. Jangan sampai kondisi kering seperti sekarang membuat api mudah menyebar dan menimbulkan dampak yang lebih luas,” kata Budiman.

Ia mengatakan pemerintah kecamatan bersama Forkopimcam, pemerintah desa, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, serta unsur terkait terus melakukan langkah pencegahan dan edukasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi karhutla.

Ia menyebutkan, kondisi karhutla di Kecamatan Tanah Pinoh sejauh ini masih dalam skala yang relatif kecil dan dapat ditangani. Meski demikian, pemerintah kecamatan tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat kondisi cuaca yang panas dan lahan yang semakin kering dapat membuat api lebih mudah muncul dan meluas.

“Kita berharap karhutla yang ada saat ini tidak berkembang menjadi lebih besar. Karena itu, semua pihak harus bergerak bersama. Pemerintah kecamatan, Forkopimcam, pemerintah desa, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan harus saling mendukung dalam upaya pencegahan maupun penanganan,” tegasnya.

Budiman juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan atau ladang secara sembarangan selama musim kemarau. Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api lebih sulit dikendalikan dan berpotensi merembet ke area lain.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan membakar lahan atau ladang. Kalau memang ada aktivitas pembukaan lahan yang membutuhkan pembakaran, harus memperhatikan kondisi dan tidak dilakukan secara ceroboh. Api yang awalnya kecil bisa merembet dan meluas karena kondisi lahan saat ini sangat kering,” jelasnya.

Ia menambahkan, pencegahan karhutla membutuhkan kesadaran seluruh masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mencegah munculnya titik api.

“Harapan kita tentu hujan segera turun dengan intensitas yang cukup sehingga kekeringan dapat teratasi dan risiko karhutla bisa ditekan. Namun, sebelum hujan datang, kewaspadaan dan kepedulian masyarakat tetap menjadi kunci,” pungkas Budiman

Exit mobile version