MEMBANGUN GENERASI SEHAT MELALUI SOSIALISASI PENCEGAHAN STUNTING

oleh -23 views

MELAWINEWS.COM-PONTIANAK-Di Desa PAL 9, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, upaya pencegahan stunting telah menjadi fokus utama, maka dari itu Kelompok 17 Pengabdian pada Masyarakat (PPM) FISIP UNTAN Tahun 2024 yang diketuai oleh Drs. M. Sabran, M.Si dengan Anggota PPM Nurwijayanto, SH., M.Si, Laras Putri Olfiani, S.IP., M.HI dan Ahirul Habib Padilah, S.IP., M.I.Pol melaksanakan kegiatan Sosialiasi
Pencegahan Stunting bersamaan dengan Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak dengan harapan menghasilkan langkah konkret yaitu pemahaman yang mendalam tentang Stunting serta Pendidikan dan Pelatihan dalam pembuatan makanan tambahan berbasis pangan lokal untuk balita bagi ibu-ibu kader Posyandu serta yang memiliki bayi/balita. Secara khusus, pembahasan secara teoritis oleh Kelompok 17 PPM FISIP UNTAN dan secara prakteknya dilaksanakan oleh Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak.

Data dari Puskesmas Pal 9, yang tercatat dalam Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), menunjukkan angka dari 1.665 balita yang terdaftar, sebanyak 153 di antaranya (9.18%) menderita stunting. Angka ini mengingatkan kita akan tantangan nyata yang dihadapi dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal generasi penerus bangsa.

Stunting, yang sering kali diabaikan, memiliki dampak jangka panjang yang serius terhadap kualitas hidup dan potensi sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, langkah proaktif seperti yang dilakukan oleh PPM FISIP UNTAN adalah langkah yang sangat tepat dan bernilai strategis. Melalui edukasi kepada masyarakat lokal tentang pentingnya gizi seimbang dan pengenalan makanan tambahan berbasis pangan lokal, mereka tidak hanya memberikan solusi konkret tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya investasi dalam kesehatan anak-anak sejak dini.

Dengan memanfaatkan potensi lokal dan melibatkan komunitas secara langsung, kegiatan ini tidak hanya memberdayakan masyarakat dalam mengatasi masalah gizi, tetapi juga memperkuat kemandirian dan keberlanjutan program. Ini adalah contoh nyata bagaimana akademisi dan praktisi lapangan dapat bekerja bersama-sama untuk menciptakan dampak positif yang signifikan dalam upaya mencetak generasi penerus yang lebih sehat dan tangguh.
Pemikiran dan tindakan kolaboratif semacam ini harus diapresiasi dan dijadikan contoh bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan serupa. Dengan terus menguatkan kerja sama antar berbagai pihak, kita bisa meraih perubahan yang lebih baik untuk masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia.