Melawi  

Karhutla Belum Tuntas di Melawi, Kabut Asap Masih Menghantui Warga

Pantauan di kawasan Kota Nanga Pinoh, Rabu pagi, (14/10/2026), menunjukkan kabut asap cukup tebal menyelimuti sejumlah wilayah

MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Rabu (14/10/2026).

Kondisi yang berlangsung selama sekitar tiga bulan terakhir tersebut terus mengganggu aktivitas masyarakat, terutama akibat terbatasnya jarak pandang serta keluhan kesehatan yang dirasakan warga.

Pantauan di kawasan Kota Nanga Pinoh, Rabu pagi, menunjukkan kabut asap cukup tebal menyelimuti sejumlah wilayah. Pemandangan di sekitar kota yang biasanya terlihat jelas dari jarak tertentu tampak samar karena tertutup asap.

Kondisi ini menjadi persoalan bagi masyarakat yang harus menjalankan aktivitas sehari-hari. Sejumlah warga mengaku terganggu dengan kabut asap, terutama pada pagi dan sore hari ketika kondisi udara dirasakan semakin tidak nyaman.

Selain mengurangi jarak pandang, kabut asap juga dikeluhkan menyebabkan mata perih, hidung tersumbat, dan tubuh terasa tidak nyaman. Warga pun memilih membatasi kegiatan di luar rumah untuk menghindari paparan asap.

Salah seorang warga Nanga Pinoh, Didik Purnomo, mengatakan kabut asap telah dirasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut sangat mengganggu kenyamanan, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.

“Kabut asap khususnya di Kota Nanga Pinoh ini sudah sekitar tiga bulan terakhir. Mata menjadi perih kalau siang, pagi sama sore gelap,” kata Didik.

Ia mengaku kondisi udara yang dipenuhi asap membuatnya ragu untuk bepergian. Jika harus keluar rumah, aktivitasnya sebisa mungkin dibatasi untuk keperluan tertentu.

Didik mengatakan dirinya merasakan mata pedih, hidung tersumbat, serta tubuh tidak nyaman ketika terpapar kabut asap.

“Mata pedih, badan tidak enak seperti mau demam, dan hidung tersumbat. Kalau kami bilang seperti menghirup minyak angin, terasa di hidung,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang leluasa. Ia berharap kabut asap yang menyelimuti wilayah Melawi segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.

Kabut asap yang belum kunjung menghilang juga menjadi perhatian karena dampaknya terhadap aktivitas pendidikan. Pemerintah daerah hingga saat ini masih memberlakukan kebijakan Belajar dari Rumah (BDR).

Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mengurangi aktivitas siswa di luar ruangan selama kondisi kabut asap masih mengganggu.

Meski demikian, berlarut-larutnya kabut asap menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Warga berharap hujan segera turun dan membantu mengurangi kabut asap. Namun, penanganan karhutla serta upaya mencegah munculnya titik api baru tetap diperlukan agar persoalan serupa tidak terus berulang.

Exit mobile version