MELAWINEWS.COM, MELAWI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, mulai menunjukkan dampak serius terhadap kualitas udara.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Melawi mencatat hasil pengukuran kualitas udara sesaat pada Senin, 5 Oktober 2026 pagi, di empat lokasi menunjukkan konsentrasi berada pada kategori berbahaya.
Pengukuran dilakukan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Nanga Pinoh; Desa Tiong Keranjik, Kecamatan Belimbing Hulu; Desa Loka Jaya, Kecamatan Tanah Pinoh; serta Desa Ulak Muid, Kecamatan Tanah Pinoh Barat.
Seluruh hasil pengukuran tersebut dikategorikan berbahaya, menjadi peringatan serius bagi masyarakat di tengah kondisi karhutla dan kabut asap yang masih terjadi di sejumlah wilayah Melawi.
Kepala Dinkes Melawi, Arif Santoso, mengingatkan bahwa paparan udara dengan konsentrasi PM2.5 dan PM10 yang tinggi dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Di antaranya iritasi mata, hidung dan tenggorokan, gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas, hingga memperburuk penyakit jantung dan pembuluh darah.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita penyakit pernapasan kronis juga memiliki risiko lebih tinggi terhadap dampak buruk paparan polusi udara.
“Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena pengukuran dilakukan pada pagi hari, ketika kabut asap masih terlihat di sejumlah kawasan terdampak karhutla,” ujar Arif, Senin (5/10/2026).
Lebih lanjut dikatakan, tingginya konsentrasi PM2.5 dan PM10 tersebut sekaligus mempertegas bahwa penanganan karhutla tidak hanya menyangkut persoalan kebakaran lahan, tetapi juga ancaman langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Karena itu, tambah Arif, upaya pemadaman dan pencegahan karhutla perlu terus diperkuat, terutama pada wilayah yang menjadi sumber asap, agar dampak pencemaran udara tidak semakin meluas dan membahayakan masyarakat.
