MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH-Ribuan Jamaah antusias menghadiri Tablig Akbar dalam rangka Tasyakuran Khitan M Ali Mukhti As-Shobuny di komplek pondok pesantren Bustanul Quran Melawi Minggu (27/2) pagi.
Dalam Tablig Akbar tersebut hadir qoriah Internasional asal Kalbar, dan juga penceramah Nasional yang sering tampil di layar kaca, yakni ustaz Ahmad Kan, hadir pula Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Pesantren Indonesia (IPI),KH. Abdul Muhaimin dan para pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Kalbar.
Dalam kesempatan tersebut KH. Joko Supeno Mukti. AH, selaku sohibul hajat menyampaikan terimakasih kepada para ulama, guru, dan jamaah yang hadir, khususnya kepada bupati Melawi yang sudah memberikan dukungan untuk kemajuan pondok pesantren BQ.
Kata Kyai Joko, yang namanya Khadimul Qur’an itu bukan saja mereka yang mengajarkan dan belajar Al-Qur’an.
“Tetapi mereka yang menghibahkan, menyediakan dan mewaqafkan tanah untuk kegiatan Al-Qur’an, mereka yang mewaqafkan mushaf, memberi beasiswa untuk penghafal Al-Qur’an, mereka yang ikut senang menjadi panitia dalam kegiatan Al-Qur’an, asal disertai rasa ikhlas, mereka semua adalah ” Khadimul Qur’an ” yang akan mendapatkan penghargaan yang agung dari Allah di dunia sampai akhirat.” Kata Kyai Joko Supeno Mukti.
Kata Kyai Joko, bupati Melawi, dengan kekuasaannya telah memberikan dukungan atas kemajuan pondok pesantren dengan cara menghibahkan lahan milik pemerintah kepada pondok pesantren, ini juga bisa disebut sebagai Khadimul Quran.
“Jadi pak bupati ini sekarang menerima penghargaan baru sebagai khadimul quran, karena telah ikut berpartisipasi dalam pendidikan al quran,”katanya.
Sementara itu bupati Melawi H.Dadi Sunarya Usfa Yursa mengatakan, dirinya sangat mendukung berbagai kegiatan
apalagi berhubungan dengan pendidikan islam. Salah satunya dengan cara menghibahkan lahan pemerintah kepada pondok pesantren.
“Ini tanah pemerintah, tanah bapak ibu semua, saya tinggal tanda tangan saja, hanya melalui pulpen saya saja, sehingga lahan ini bisa dihibahkan ke pondok bustanul quran,”katanya.
Dadi yakin tinggal bagaimana saat ini adalah pengurus pondok dan jamaah memikirkan bagaimana kelanjutan untuk pembangunan di kawasan tersebut. “Kita ingin bangun kampus untuk sekolah Tinggi Ilmu Al quran di Melawi, sehingga akan semakin banyak tahfid atau penghafal yang ada di Melawi, sehingga akan banyak pahala yang akan terus mengalir,” katanya.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), KH Abdul Muhaimin, mengatakan, Persepsi masyarakat terdahulu terhadap pesantren hanya sebatas pusat pendidikan keagamaan atau belajar kitab. Namun, kini pesantren tidak hanya sekedar mendalami agama, tapi telah bertransformasi menjadi agen pemberdayaan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Perubahan pola kehidupan sosial masyarakat, adanya reformasi pendidikan, dan terjadinya era disrupsi, telah menuntut pesantren untuk terus melakukan penyesuaian dan perubahan dengan tetap menjaga citra eksistensinya,” ungkapnya
Sementara ustaz Ahmad Kan dalam tausiahnya mengatakan, Khitan adalah proses pengangkatan kulit yang menutupi ujung penis. Dalam Islam, hukum khitan bagi anak laki-laki adalah wajib. Tujuannya bukan hanya sekadar mematuhi perintah agama, tapi juga untuk menjaga agar tidak terkumpul kotoran di penis, memudahkan untuk kencing, dan agar tidak mengurangi kenikmatan saat bersenggama .
Apakah khitan dimulai sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Ternyata, berkhitan sudah dilakukan bahkan sebelum zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini diterangkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
