Lestarikan Budaya, Kelenteng Fuk Tet Chie Jalankan Sembahyang Rebut

oleh
Warga Tionghoa Kelenteng Fuk Tet Chie saat menjalankan prosesi ritual sembahyang rebut sembako

MELAWINEWS.COM, NANGA PINOH – Kelenteng Fuk Tet Chie, yang terletak di Kota Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat, menjalankan sembahyang Chiong Shie Ku, yang mengacu pada kalender Imlek bertepatan pada tanggal 14-15 bulan ke 7, Rabu (2/9/2020). 

Ritual sembahyang persembahan Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) bekerja sama dengan Badan Sosial Pemadam Bahaya Kebakatan (BS-PBK) Bhakti Mulya Kabupaten Melawi tersebut, sebagai wujud masyarakat Tionghoa untuk menghormati para leluhurnya.

Prosesi ritual sembahyang tersebut juga pihak panitia menyediakan paket sembako di halaman Kelenteng yang tersusun rapi, yang kemudian diperebutkan para warga Tionghoa yang sudah menanti di luar pagar Kelenteng.

Ketua Kelenteng Fuk Tet Chie, Min Fung, menjelaskan, bahwa sembahyang Chiong Shie Ku atau biasa disebut sembahyang rebut ini merupakan kegiatan budaya yang dilaksanakan warga Tionghoa pada akhir masa ziarah bertepatan pada tanggal 14-15 di bulan 7 kalender Imlek.

Min Fung menjelaskan, pada hakekatnya, ritual acara sembahyang Chiong Shie Ku ini menurut adat kepercayaan warga Tionghoa bertujuan untuk saling membantu. Dengan memberikan sedikit dari apa yang dimilikinya kepada sesama.

Ia menambahkan, kegiatan ini terlaksana yang didukung para donatur pengusaha warga Tionghoa khusuanya di Kota Nanga Pinoh dan dari Pontianak.

Ditempat yang sama, Ketua MABT Melawi, Taufik, mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari budaya Tionghoa. Sehingga wajib dilestarikan, dan dilaksanakan setiap tahunnya.

“Oleh sebab itu setiap tanggal 14-15 bulan 7 tahun Imlek, warga Tionghoa di Kabupaten Melawi selalu mengadakan ritual sembayang rebut atau yang sering disebut Chiong Shie Ku di kelenteng, dimana warga memberikan penghormatan yang diiringi dengan panjatan doa keselamatan dan keberkahannya,” kata Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Melawi itu.

“Karena ini bagian dari budaya jadi kita support dalam melestarikan tradisi yang ada didalam kalender, yang merupakan ciri khas dari budaya Tionghoa,” tandasnya.