Diskusi Bareng Poktan, Yessy Serap Persoalan Sektor Pertanian Melawi

oleh
Legislator DPR RI, Yessy Melania berdiskusi dengan kelompok tani dan dinas pertanian Melawi di Desa Semadin Lengkong. Kehadiran Yessy untuk menyerap berbagai Persoalan Sektor Pertanian dan membawa aspirasi para petani ke pusat

MELAWINEWS.COM, Melawi – Penduduk Kalbar, khususnya Melawi sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Sektor yang menjadi tulang punggung masyarakat inipun menjadi perhatian khusus Legislator DPR RI asal Dapil Kalbar 2, Yessy Melania yang datang langsung menyambangi kelompok tani serta stakeholder terkait di Melawi.

Yessy mengunjungi Desa Semadin Lengkong, Kecamatan Nanga Pinoh, Rabu (27/11) untuk bersilaturahmi sekaligus berdiskusi bersama kelompok tani (Poktan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

Turut hadir Dinas Pertanian dan Perikanan Melawi, serta petugas penyuluh perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta WWF Indonesia yang menjadi satu mitra Distankan Melawi.

Yessy sendiri duduk dalam Komisi IV DPR RI membidangi pertanian, perikanan, kelautan dan bulog. Silaturahmi ini dilakukan mengisi jeda waktu kosong usai sosialisasi empat Pilar Kebangsaan pada 25-26 November 2019 yang lalu.

Sejumlah permasalahan pun disampaikan oleh berbagai pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Kaswadi, salah seorang petani Melawi terkait optimalisasi peranan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang berkantor di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Melawi. Mereka meminta Dinas Pertanian Melawi untuk dapat memilih tempat pelaksanaan pelatihan-pelatihan petani, cukup di seputaran wilayah kabupaten Melawi saja, sehingga lebih mengakomodir banyak keikutsertaan para petani, memandang pentingnya ilmu pengetahuan dan informasi bagi petani.

“Bahwa jika kendala dari pemerintah sehingga sulit mengoptimalkan kinerja para PPL adalah masalah dana operasional maka kepada Mbak Yessy diminta bantuan untuk menyampaikan langsung ke Menteri Pertanian agar ditambahkan anggarannya,” ucapnya.

Dari pihak pemerintah, Kepala Distankan Melawi, Oslan Junaidi mengungkapkan minimnya ketersediaan Alat Mesin Pertanian (ALSINTAN) dan termasuk juga terbatasnya alat berat untuk membuka lahan perawan pertanian yang di miliki Dinas Pertanian Melawi, menjadi kendala signifikan dalam mengoptimalkan program Pangan Berkelanjutan. Selain masalah tersebut, Oslan juga memaparkan Dinas Pertanian Melawi juga telah memulai kerjasama dengan WWF Melawi untuk membuat konsep Program Pertanian Berkelanjutan di Melawi.

“Cuma ada satu faktor yang tolong diclearkan dan tolong sampaikan oleh Bu Yessy pada Kementerian Pertanian dan ATR/BPN tentang revisi status-status lahan atau tanah yang ada di Melawi ini, yang mana yang boleh digunakan untuk peruntukan lahan pertanian, yang mana lahan kena kawasan, yang mana lahan HGU, sehingga ada kepastian hukum bagi kami, terutama yang berkaitan dengan program kegiatan berikut penganggarannya sehingga kami bisa maksimal memberdayakan kesejahteraan para petani kita di Melawi ini,” katanya.

Yessy pun memperhatikan dengan intens dan fokus atas berbagai permasalahan yang disampaikan petani hingga dinas teknis. Legislator NasDem ini dengan lugas menyampaikan bahwa dalam dua kali rapat kerja dengan Kementerian-Kementerian terkait di sektor Pertanian, Peternakan, Perikanan, serta Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dia selalu tegas menyampaikan permasalahan-permasalahan faktual di lapangan yang di alami oleh Petani di Kalimantan Barat khususnya di Dapil Kalbar II.

“Termasuk jugalah berkaitan dengan pertanyaan dari POKTAN maupun Kepala Kadis Pertanian Melawi di atas, dan juga tentang potensi besar Kalimantan Barat untuk menjadi next Lumbung Pangan Nasional,” ujarnya.

Dilanjutkan Yessy, hal mendasar yang mesti dipahami bersama dahulu adalah bahwa potensi pertanian di Melawi sangatlah luar biasa menjanjikan, dan sektor pertanian adalah salah satu pilar negara yang fundamental, maka untuk membangunnya harus di landasi dengan gambaran data-data dan angka yang akurat, sehingga dapat menjadi patokan baku buat kita ketika mengkonstruksi program-progran ketahanan pangan nasional kedepannya.

“Program Pembentukkan Petani Milenial, juga menjadi fokus saya. Karena program ini sebagai kaderisasi stok pekerja lanjut usia yang pastinya menurun produktifitasnya untuk bergiat di sektor pertanian,” ujarnya.

Menurut Yessy, Petani Milenial adalah petani yang berasal dari generasi-generasi muda. Jumlah mereka sangat besar dalam populasi penduduk Indonesia. Mereka harus dimotivasi dan diberdayakan, untuk menjadi petani milenial yang modern, yang cakap menggunakan alat teknologi dalam budidaya pertanian, sehingga hasil produksi kedepannya lebih tinggi dibanding ketika masih memakai pola tani manual tradisional.

“Kebetulan program ini, sejalan dengan Program Ketahanan dan Kemandirian Pangan Nasional yang menjadi visinya Presiden Jokowi dan fokus program dari Kementerian Pertanian Kabinet Indonesia Maju,” jelasnya.

Yessy juga menambahkan Ia akan menyuarakan dalam rapat internal Komisi IV DPR RI dan rapat kerja dengan Kementerian terkait tentang sektor Peternakan Melawi yang kurang diperhatikan dan diberdayakan dalam setiap pengambilan kebijakan terkhusus oleh Pemerintah Pusat, padahal kabupaten Melawi secara skala potensi konsumsi, pasar, maupun produksi sangatlah menjanjikan pertumbuhannya.