Aktivis Cipayung Sintang Kecam Sikap Represif Aparat ke Aktivis Cipayung Balikpapan

oleh


Sekitar 40 aktivis Cipayung Sintang mengecam keras tindakan represif pihak kepolisian terhadap aktivis Cipayung Balikpapan
MELAWINEWS.COM, SINTANG – Buntut dari bentrok antara aktivis Cipayung Balikpapan dengan pihak kepolisian setempat saat demontrasi pada (11/2/2019) lalu, berujung dari 14  aktivis  harus dilarikan 11 orang ke Rumah Sakit Bhayangkara karena luka-luka.

Satu di antara korban yang dibawa ke rumah sakit, terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo pada Selasa (12/2) kemarin dalam kondisi terbaring lemas. Tragedi itu lantas mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Secara nasional, salah satunya Organisasi Cipayung Kabupaten Sintang, dimana mereka melakukan aksi solidaritas di Tugu Adi Pura Sintang, mengecam keras tindakan pihak kepolisian yang membuat rekannya itu mendapat tindakan represif dari aparat kepolisian.

Sekitar 40 aktivis yang mengatasnamakan dirinya Cipayung  tersebut, terdiri dari gabungan HMI, GMNI, PMKRI, PMII, GMKI. Mereka menuntut kasus ini agar dapat ditindaklanjuti oleh Kapolri, agar hal serupa tak terjadi lagi dikemudian hari.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Solidaritas Cipayung Sintang, Florentinus Bruri mengatakan, bahwa dengan kejadian tersebut, Polri gagal melindungi hak kebebasan berpendapat di muka umum, sesuai dengan UU Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Berpendapat di Muka Umum.

“Kita minta perlakukan represif Polisi itu dapat diproses hukum yang transparan dan sangsi tegas terhadap pelaku,” ujarnnya pada media ini, Selasa (19/2/2019) di bundaran Tugu Adipura Sintang.

Apakah akan ada aksi lanjutan, apabila kasus ini tidak ditindaklanjuti?  Florentinus dengan tegas mengatakan, pihaknya akan melakukan diskusi lagi bersama teman-teman komunitas lainnya untuk tindakan selanjutnya yang akan diambil. “Kita akan diskusikan lagi bersama teman-teman, langkah apa selanjutnya,” terangnya.

Aksi ini, dikatakannya merupakan bentuk simpatik dan solidaritasnya terhadap apa yang menimpa teman-teman aktifis Cipayung Kota Balikpapan, saat sedang melakukan aksi di Kantor DPRD setempat. Aksi ini juga dilakukan agar Kapolri dapat memastikan untuk menghentikan segala tindakan represif oknum Polisi terhadap aksi massa, apa pun itu alasannya.

“Saat melalukan aksi itu, ada baku pukul atau semacam perselisihan di antara aktivis dengan Polisi di sana. Sehingga tindakan yang tak diinginkan terjadi,” jelasnya.

Diharapkannya, ke depan Polri dengan Cipayung se-Indonesia, khususnya Kabupten Sintang, dapat bersinergi dalam menciptakan situasi aman dan kondusif di masyarakat. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

“Ini bentuk kita supaya bisa lebih solit menjaga NKRI.  Kita berharap ke depan aksi yang nanti kita lakukan, baik isu lokal maupun nasional dapat dilindungi sesuai UU yang tertera,” pungkasnnya. (Yanti)