Anak Petani Itu Kini Jadi Pramugara dan Bisa Keliling Dunia

oleh
Tarsan Agus

Ya begitulah, karena nama tersebut membuat Tarsan kecil, yang memiliki nama lengkap Tarsan Agus Pranomo, menjadi bahan perundungan (bullying). Hal itu yang membuat dirinya menjadi pemalu dan minder.

Tapi bukan Tarsan si anak sinden namanya jika terus berlarut dalam kesedihan, justru dengan memiliki nama yang unik membuatnya belajar untuk menjadi sesuatu yang akan membuat orang selalu ingat. Didukung oleh Parinah (ibu) yang seorang sinden (mungkin sekarang sudah mantan sinden) dan Suparmin (ayah) seorang petani karet, Tarsan bergabung dengan sanggar yang dulu pernah ada. Alhasil, kekocakan yang ditampilkan selalu membuat penonton tertawa.

Tarsan yang suka membaca banyak hal (terutama komik) membuatnya memiliki wawasan dan pengetahuan tentang dunia luar sangat luas, dari situlah Tarsan memiliki cita-cita untuk keliling dunia. Cita-cita yang waktu itu semacam mustahil untuk didapatkan karena hidup di desa yang biasa saja dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Sejak SMA, Tarsan mulai hijrah ke kota. Dari situ, pengetahuan semakin bertambah dan semakin ingin menjelajah dunia. Sekolah di SMK Pariwisata di kota Pontianak, lalu lanjut kuliah Pariwisata di Kota Yogyakarta (walaupun dengan biaya yang bisa dibilang gali lobang tutup lobang), akhirnya Tarsan berhasil menyandang gelar S1 Pariwisata. Sedikit cerita mengenai keputusan Tarsan untuk kuliah di Yogyakarta bahwa orang tuanya memiliki prinsip “anakku harus memiliki pendidikan yang lebih baik dari aku (orang tua)”.

Dan begitulah, meski harus dengan pinjam hutang sana sini, Tarsan mengenyam pendidikan di Yogyakarta. Selama kuliah, Tarsan juga sembari bekerja paruh waktu di hotel dengan gaji waktu itu berkisar Rp. 15.000 s.d Rp. 20.000 (tahun 2006), niatnya membantu meringankan beban biaya.
Selesai kuliah, Tarsan sempat bekerja di beberapa hotel di Yogyakarta maupun di Semarang sebelum akhirnya berprofesi sebagai Pramugara.

Kala itu, waktu sedang mengikuti proses seleksi pramugara, Tarsan masih bekerja di salah satu hotel di Semarang, sedangkan proses seleksi dilaksanakan di Jakarta. Alhasil, selama sekian bulan (karena proses seleksinya memiliki 8 tahapan dan dilaksanakan setiap 2 minggu sekali), Tarsan harus bolak balik Semarang Jakarta. Perjuangan yang tidak mudah, mengingat Tarsan yang hanya seorang pemuda desa, akhirnya menjadi seorang pramugara dari sekian puluh orang yang diterima (peserta seleksi waktu itu ada sekitar 4.000an peserta).
Begitulah, sekarang Tarsan bisa menjelajah, setidaknya sebagian dari dunia, dengan menjadi seorang pramugara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *