Warga Tionghoa Melawi Peringati Malam Rembulan

oleh

MELAWINEWS.COM,MELAWI. Setiap tanggal 15 bulan ke delapan pada tahun imlek, warga Tionghoa merayakan malam Rembulan untuk mengenang Dewi Bulan. Tak terkecuali warga Tionghoa yang berada di Kabupaten Melawi.

Peringatan tersebut dipusatkan di halaman Gedung Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Melawi Jalan Merak,Desa Paal pada Kamis. Perayaan malam Rembulan ini bertepatan pada tanggal 15 bulan ke delapan tahun 2567 dalam kalender Imlek. Perayaan yang dimulai pukul 20.00 wib itu juga dihadiri oleh para sesepuh Tionghoa, Wakapolres Melawi,Kompol Catur prasetyo dan Kabag Ops, AKP Kuntadi Budi Pranoto.

Acara dimulai dengan prosesi ritual sembahyang rembulan yang dipimpin langsung oleh pengurus Vihara Iddhi Maitreya Nanga Pinoh.
Ketua MABT Melawi, Taufik mengatakan bahwa perayaan malam Rembulan memang diselenggarakan setiap tahunnya oleh warga Tionghoa, karena menjadi salah satu tradisi. Dan untuk memeriahkan acara tersebut pihaknya juga menggelar sejumlah kegiatan seperti antraksi Barongsai yang dipusatkan di lapangan Basket Nanga Pinoh serta pembagian kue bulan di bundaran tugu Juang kepada masyarakat.

“Puncak perayaan malam rembulan ini kita pusatkan di gedung MABT dengan acara makan kue rembulan bersama sama. Dan ternyata antusiasme warga sangat tinggi sekali jika dibandingkan tahun kemarin,” beber Taufik.

Taufik yang juga anggota DPRD Melawi ini berharap tradisi yang sudah diwariskan bisa terus dilestarikan oleh para generasi muda Tionghoa agar tidak hilang. Karena setiap tradisi itu mempunyai makna penting dalam kehidupan.

Meskipun perkembangan zaman sudah semakin modern dan hal-hal yang dianggap kuno mulai ditinggalkan, budaya-budaya tradisional terutama warisan budaya bangsa kita sendiri tetap harus kita jaga. Nilai-nilai yang terkandung dalam festival malam rembulan atau musim gugur seperti kebersamaan dan keakraban, harus terus diingat dan dijalankan di dalam kehidupan sehari-hari.

Festival musim gugur dengan perayaan memakan kue bulan akan menjadi pengingat kita akan nilai-nilai luhur tersebut setiap tahunnya.
“Yang muda harus mau belajar tradisi dengan sebenar benarnya,” pesan Taufik.
Sementara itu, tokoh Tionghoa Melawi, Mantri Asiak menceritakan bahwa perayaan malam rembulan adalah sebuah tradisi atau biasa juga disebut festival musim gugur.
Terdapat legenda mengenai perayaan malam rembulan. Dimana Dikisahkan bahwa pada suatu masa muncul sepuluh matahari yang menyinari bumi, menyebabkan panas dan kekeringan yang luar biasa.
Kemudian Hou Yi, sang pemanah, muncul menyelamatkan dunia dengan memanah matahari-matahari tersebut hingga tersisa satu matahari. Atas jasanya menyelamatkan dunia, dewi dari khayangan menghadiahkan Hou Yi obat untuk hidup abadi. Tetapi Hou Yi menjadi gelap mata, apalagi setelah ia dielu-elukan oleh rakyat sebagai pahlawan, ia menjadi sombong dan takabur.
Chang E, istri Hou Yi, menjadi sedih dan kemudian meminum obat tersebut. Chang E kemudian perlahan-lahan terbang ke bulan dan dipuja sebagai dewi bulan.
Hou Yi, ditinggal oleh istrinya, merasa sangat sedih. Ia pun berusaha untuk membujuk Chang E pulang ke bumi. Setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan lunar (hari Chang E terbang ke bulan), Hou Yi menyiapkan kue beserta makanan kesukaan Chang E, berharap Chang E akan teringat akan dirinya dan bersedia turun ke bumi.
Namun tahun demi tahun Chang E tak juga pulang. Masyarakat yang melihat keadaan ini kemudian ikut menyajikan kue setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan lunar untuk membantu Hou Yi. Dari sinilah festival musim gugur atau perayaan malam rembulan bermula.
Versi lain dari legenda tersebut adalah Hou Yi menyimpan obat tersebut di rumahnya. Feng Meng, teman Hou Yi, iri dengan Hou Yi dan berusaha untuk mencuri obat tersebut. Chang E kemudian mencegahnya dan meminum obat tersebut, sehingga ia terbang ke bulan dan menjadi dewi bulan. (Dea)