Sarjana Asal Bengkulu Mengajar Di Menukung

oleh

ilustrasi guru SM3TMELAWINEWS.COM, Melawi – Alsutra, salah satu peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang akan bertugas di pedalaman Melawi selama satu tahun kedepan. Walau harus menempuh jarak ribuan km dari dirinya berasal, sarjana pendidikan lulusan Universitas Bengkulu menyatakan siap mengabdikan dirinya untuk mengajar siswa di tempat tugas barunya.

Alsutra sendiri menjadi bagian dari 54 peserta SM3T yang datang dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia mengikuti tes dan juga diberikan pembekalan selama berada di Yogya. 54 peserta SM3T ini tiba di Nanga Pinoh, Selasa (6/9) pagi dengan menggunakan dua bus. Kendati telah melalui perjalanan yang begitu jauh dari Yogya, tak terlihat kelelahan dari wajahnya.

“Saya siap menerima kondisi ditempat tugas. Khusus fisik, saya bahkan sudah latihan olahraga dengan berjalan-jalan jauh. Intinya siaplah ditugaskan di sini,” katanya.

Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris ini mengaku memiliki motivasi untuk menjadi bagian dari sarjana yang ikut mencerdaskan bangsa. Ditambah lagi ia suka berpetualang.

“Saya suka jalan-jalan ketempat yang baru. Termasuk di Melawi,” katanya.

Alsutra pun mendapat kesempatan merasakan mengajar di SMP Negeri 6 Menukung yang berada di wilayah desa Belaban Ella. Jaraknya kurang lebih 80 km dari kota Nanga Pinoh. Jaringan seluler belum menjangkau desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) ini.

“Katanya tak ada sinyal, tapi tak masalah. Kami juga sudah diberikan gambaran tempat tugas saat pembekalan,” jelasnya.

Sementara itu, Plt kepala SMP 6 Menukung, Acoi menyambut gembira kedatangan guru dari program SM3T ini. Menurutnya, kehadiran mereka akan mengurangi beban mengajar di sekolahnya yang memang saat ini mengalami kekurangan tenaga pendidik.

“Kami guru PNS hanya ada dua, termasuk saya. Sisanya guru honorer,” katanya.

Acoi pun menyatakan akan membantu proses adaptasi Alsutra, guru program SM3T yang akan bertugas di sekolahnya. Tempat tinggal juga sudah disiapkan, walau hanya menumpang dirumah penduduk. Penerangan juga ala kadarnya karena di desa Belaban belum ada listrik PLN.

“Setiap ada guru baru, saya selalu siapkan untuk tempat tinggalnya. Karena memang kami belum punya rumah dinas,” terangnya.