Selundupkan Gula Ilegal Lewat Mobil

oleh

IMG-20160904-WA0010_resizedTRIBUNNEWS.COM,PONTIANAK-Ditreskrimsus Polda Kalbar jumat (2/9) kemarin sekitar pukul 05:00 WIB, berhasil mengamankan 1 unit mobil Toyota Grand new Avanza warna Putih KB 1037 XX, yang mengangkut Gula pasir putih tanpa logo SNI ,minyak goreng dalam kemasan tanpa ijin edar yang diduga Berasal dari Luar Negeri di Jalan Sanggau Ledo Kec Sanggau Ledo Kab Bengkayang. Identitas tersangka an. HN Als NF (39), Laki2, swasta, alamat Sanggau Ledo Bengkayang.

Dirreskrimsus Polda Kalbar Kombes Pol Wawan Munawar S.ik, M.si mengungkapkan, barang bukti yang berhasil diamankan dalam mobil Toyota Grand New Avanza adalah 48 kotak minyak goreng merk twin leaves masing-masing kotak berisi 17, bungkus plastik, 1kg produksi Malaysia, dua kotak minyak goreng merek Reser masing-masing kotak berisi 17 bungkus, 1 kg produksi Malaysia, 1 kotak minyak goreng merek Twin leaves isi 4 botol 5 kg produksi Malaysia, serta 5 karung gula, 50 kg merek Inti Manis tanpa logo SNI.IMG-20160904-WA0011_resized

Selanjutnya terhadap tersangka dan barang bukti diamankan di Ditreskrimsus Polda Kalbar untuk dilakukan pemeriksaan secara intensif terhadap pelaku dan para pihak terkait.

BACA JUGA: POLRES AMANKAN WARGA MALAYSIA

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Suhadi SW, MSi mengingatkan, terkait dengan kasus penyelundupan di wilayah perbatasan Kalbar dengan Malaysia, kepada masyarakat Kalimantan Barat supaya tidak mudah terkecoh dengan harga murah, tanpa memperhatikan Standar Nasional Indonesia.
“Barang barang dari luar belum dijamin higiene nya, seperti Gula Rafinasi harganya murah tetapi tidak baik untuk kesehatan, demikian juga dsging illegal dari Malaysia, itu juga belum bebas dari penyakit mulut dan kuku, kesrmuanya itu akan berimplikasi terhadap kesehatan masyarakat” katanya.IMG-20160904-WA0012_resized (1)

Oleh karenanya kepada warga masyarakat yang maniak dengan barang luar negeri supaya dipikirjan kembali. Memang dengan masuknya barang dari Luar secara Illegal Negara banyak dirugikan karenna selain mereka tidak membayar bea masuk, juga akan mengganggu stabilitas ekonomi.

“Kepada para pelaku bisa dikenakan pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 UU no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan pasal 142 Jo Pasal 91 ayat 1 UU no 18 th 2012 tentang Pangan, dengan ancaman dipidana penjara paling lama 5 ( lima ) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2 Milyar rupiah (UU Perlindungan Konsumen), dan ancaman dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak 4 Millyar rupiah (UU Pangan). (MW/)