Menguak Sejarah Kabupaten Melawi (1) Gambar Perang Suku di Benang Pokat

oleh

 

Benang Pokat
Benang Pokat

Kabupaten Melawi Kalimantan Barat menyimpan banyak cerita menarik yang berhubungan erat dengan Satu diantaranya adalah keberadaan benang pokat di kabupaten tersebut, dalam benang pokat tersebut digambarkan perjuangan ataupun peperangan kerajaan di zamannya.

Benang pokat adalah lembaran kain panjang yang didalamnya terdapat gambar atau lukisan tentang kegiatan tertentu. Secara umum kondisi peninggalan benang pokat dapat dijelaskan sebagai Artefak benang pokat disimpan di rumah Kipas, warga Desa Nanga Potai,  Kecamatan Sokan.

Benang pokat  ini terbuat dari kain panca ina dengan ukuran panjang 480 cm dan lebar 100 cm. Gambar yang terdapat di benang pokat adalah 4 (empat) raja bersenjatakan panah, 3 (tiga) raja bersenjatakan gada,   41 orang  prajurit tanpa ekor, 36 orang  prajurit berekor 36, dan 2 orang prajurit yang memiliki sayap. Semuanya digambarkan dalam warna merah yang katanya berasal dari buah jeronang (buah rotan).

“Bahwa benang pokat ini terjadi dari pertikaian antara Suku Dayak Keninjal di daerah Sungai Belimbing dengan Suku Melayu yang ada di Kerajaan Sintang. Upaya perdamaian akhirnya dapat tercapai ketika kedua kelompok bermusyawarah di Madong, Kotabaru, dan bukti perdamaian itu adalah dibuatnya benang pokat,” kata Bambang Sugiyanto, Pemerhati budaya belum lama ini.

Dia mengungkapkan, dari hasil penelusuran, gambar yang ada di benang pokat itu  diartikan sebagai suatu ungkapan atau peribahasa sebagai “air sama nuba, buah sama mantuh, tanah sama behuma, hidup seperti burung pipit”. “Arti bebasnya kira-kira, di air sama-sama mengambil ikan, buah sama-sama dipanen, tanah sama-sama dikerjakan sebagai kebun atau sawah, hidup seperti burung pipit yang bebas merdeka kemana saja,” katanya.

Perjanjian damai antar dua suku di atas memang sesuai dengan penggambaran yang ada di benang pokat. Gambaran di benang pokat adalah kegiatan perang antara dua kelompok,yaitu kelompok manusia bersenjatakan gada dan kelompok manusia berekor (menyerupai monyet/kera) yang bersenjatakan panah. Yang paling menarik adalah penggambaran tokoh pemimpin di kelompok manusia bersenjatakan gada, yang digambarkan dengan ukuran yang sedikit lebih besar daripada lainnya, dengan memiliki kepala dan tangan yang berlipat banyaknya daripada manusia biasa,” katanya.

Si raja ini digambarkan menggunakan panah sebagai senjatanya, bukan gada seperti yang dipakai oleh anggota kelompok lainnya. Kelompok sebelah kiri yang dipimpin oleh seorang yang mempunyai kepala dan tangan lebih dari satu. Sementara kelompok yang sebelah kanan di pimpin oleh seorang tokoh yang digambarkan biasa saja.

Kedua kelompok pasukan yang berperang ini menurut bapak Kipas (penyimpan benang pokat) merupakan gambaran kedua pihak yang sedang bersengketa pada masa lalu, yaitu kelompok suku Dayak Keninjal dan Suku Melayu. Oleh karena itu, untuk menandai perdamaian di antara kedua kelompok suku maka dibuatlah benang pokat sebagai tanda atau piagam khusus yang sampai sekarang disimpan sebagai barang yang dikeramatkan.

Ada sesuatu yang menarik dari penampilan benang pokat ini, yaitu penggambaran peristiwa peperangan besar yang melibatkan banyak orang dengan ribuan anak panah yang berterbangan.  Ali Anshori/Melawi Jika mengamati gambaran peperangannya, tampaknya benang pokat ini merupakan gambaran peperangan antara Rahwana dan Rama dalam kisah Ramayana. Penggambaran tokoh yang mempunyai kepala lebih dari satu dan tangan yang lebih dari sepasang, merujuk pada gambaran seorang raja yang bernama “Rahwana”.

Pasukan manusia berekor yang menjadi lawanya merujuk ke pasukan kera yang membantu Rama dan Lesmana dalam upaya membebaskan Sinta dari tangan Rahwana. Kisah peperangan ini merupakan cuplikan kisah Epik Ramayana yang sangat terkenal beberapa abad yang lalu.  Mari kita amati secara seksama semua penggambaran yang ada di benang pokat tersebut. Peristiwa yang digambarkan adalah peristiwa perang antara dua belah pihak, pihak pertama dipimpin oleh seorang raja yang digambarkan mempunyai 10 buah kepala,  dan 10 pasang tangan.

Sepasang tangan raja ini memegang busur yang siap meluncurkan anak panahnya. Kelompok pasukan pertama ini digambarkan berada di sisi kiri (arah hadap penonton benang pokat). Kemudian kelompok kedua yang berada di sisi kanan (arah hadap penonton benang pokat), dipimpin oleh seorang raja yang digambarkan manusia normal dengan juga memegang busur panah yang sama besar dan mengarahkan anak panahnya ke kelompok lawannya.

Tampaknya kedua raja (pemimpin pasukan) ini saling memanah dengan sengitnya, dan digambarkan dengan banyaknya anak panah dengan arah yang berlawanan hampir di semua bidang gambar benang pokat.   Penggambaran yang  menarik dari adegan peperangan di benang pokat adalah tokoh raja pemimpin pasukan yang berkepala 10 buah dan mempunyai 10 pasangan tangan. Penggambaran tokoh yang seperti ini hanya dapat ditemukan pada kisah epic Ramayana, yaitu penggambaran seorang raja Raksasa di Negara Alengka, Raja Rahwana.  Dalam  kisah Ramayana memang digambarkan jika Rahwana mempunyai ukuran tubuh yang besar dan mempunyai 10 buah kepala dan 10 pasang tangan. Kemudian pasukan yang ada di sisi kanan, yang hampir semuanya digambarkan sebagai manusia dengan wajah yang menyerupai kera dan mempunyai ekor panjang.  Gambaran pasukan ini dalam kisah Ramayana dikenal dengan pasukan kera yang membantu Rama dalam perang melawan Rahwana.

Pasukan kera ini dipimpin langsung oleh rajanya yang bernama Sugriwa.  Kemudian ada gambar yang lebih meyakinkan lagi jika adegan perang yang digambarkan pada benang pokat itu adalah epos Ramayana, yaitu adanya gambar tokoh manusia kera bersayap yang membawa sesuatu yang mirip gambaran sebuah gunung. “Dalam kisah Ramayana memang diceritakan bahwa Rahwana akhirnya terbunuh oleh panah sakti Rama dan tubuhnya dihimpit sebuah gunung besar yang dibawa oleh Hanoman,” katanya. (bersambung)