Curhat Pemadam Kebakaran Pontianak

oleh
facebook steven greatness
facebook steven greatness

Inilah curhatan petugas pemadam  kebakaran di Pontianak, yang seolah kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Mereka diminta untuk bekerjasama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalbar. Namun giliran bicara anggaran pemerintah bilangnya gak ada anggaran.

Lo bagaimana ini padahal mereka yang bekerja itu anggarannya hanya mengandalkan dari sumbangan masyarakat, mereka tidak digaji, kadang meninggalkan pekerjaan rumahnya. Harusnya kan ada keseimbangan dari pemerintah dong, supaya ada keharmonisan, jangan hanya mengorbankan pemadam kebakaran swasta lah. Apalagi memanfaatkan mereka untuk “cari muka” no why gak pakai itu. Pemerintah kan punya anggaran. Kenapa tidak dimaksimalkan. Jangan hanya rapat doang sementara penanganannya gak ada. Bagaimana sih curhatan para pemadam kebakaran di pontianak? Berikut tulisan pemilik akun facebook Steven Greatness

EMPAT hari yang lalu diadakan pertemuan atas permintaan sebagian besar pemadam swasta yang ada di Pontianak dan sekitarnya difasilitasi tokoh pemadam Kalbar, Ateng Tanjaya (Alfa Tanggo) dengan Kapolresta Pontianak dan Dandim 1207/BS adalah instansi yang ditunjuk sebagai pelaksana pemadaman kebakaran lahan dan hutan di wilayah hukum Pontianak.

Sungguh sayang sekali, pertemuan tersebut seharusnya melibatkan pemerintahan kabupaten/kota, dewan rakyat, BPBD, dan instansi terkait yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab besar soal kebakaran lahan dan hutan yang berdampak bencana asap.

Sekali lagi, mereka sama sekali tak ada di sana saat pertemuan itu digelar di aula Polresta Pontianak.

Singkatnya, pertemuan hari itu yang ada hanya motivasi kepada pemadam kebakaran swasta. Padahal, inti pertemuan itu adalah pemadam swasta yang bekerja tak pernah terima gaji ini sudah merasakan kekurangan anggaran operasional saat turun ke lapangan untuk padamkan kebakaran lahan dan hutan.

Seyogyanya, tugas pokok pemadam kebakaran swasta di Pontianak dan sekitarnya adalah memadamkan bangunan atau gedung yang terbakar bukan memadamkan lahan dan hutan.

Oleh karena itu, hasil pertemuan saat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa “sama-sama tidak memiliki anggaran” dana yang dicadangkan pemerintah baru dapat dianggarkan apabila bencana asap yang semakin tebal ini berstatus darurat.

Toh demikian, alangkah baiknya kita (pemadam swasta) tak usah turun lagi padamkan lahan dan hutan yang terbakar. Biarkan api semakin besar dan kabut asap semakin tebal sehingga pesawat tak bisa mendarat, sekolah diliburkan, semua aktivitas terganggu dan akhirnya ditetapkan status siaga darurat.

Dengan begitu, anggaran akan turun dari sononya. Tapi kami tetap sangsi anggaran itu bisa dialokasikan untuk pemadam kebakaran swasta yang setiap hari hampir 24 jam berjibaku padamkan kebakaran lahan dan hutan. Saat ini pun teman-teman masih di lapangan padamkan api.

Alasannya sederhana, selama ini saja yang aktif padamkan kebakaran lahan dan hutan di lapangan adalah pemadam kebakaran swasta tapi seringkali dimanfaatkan oknum tertentu seolah-olah mereka yang bekerja keras di lapangan.

Belum lagi ada pemberitaan terakhir bahwa pemadam ditelepon tak datang-datang. Saudara-saudara, sekali lagi tugas utama pemadam kebakaran swasta di Pontianak adalah memadamkan kebakaran bangunan/gedung bukan lahan dan hutan.

Masing-masing ada tupoksinya, tapi kami masih miliki rasa kemanusiaan makanya kami masih mau turun membantu padamkan api di lahan dan hutan.

Untuk itu, jika mau kita kerjakan sama-sama, anggarkan dana untuk semua yang terlibat biar sama-sama rasakan. Bukan malah pemadam swasta yang bekerja tapi kalian mengklaim hasilnya.

Semoga celoteh ini bisa sedikit mengobati teman-teman pemadam yang sudah mulai muak melihat lambannya respon para pemangku jabatan, kesadaran para pemimpin, serta oknum-oknum yang selalu klaim pihaknya sudah maksimal atasi asap.

Catatan :

Pemadam kebakaran swasta di sini adalah pemadam yang terbentuk atas swadaya masyarakat, di mana biaya operasionalnya berasal dari bantuan atau sumbangan sukarela dari masyarakat. Pengurus maupun anggotanya bekerja tanpa digaji, bahkan mereka sering tinggalkan kerjaan demi membantu padamkan api.