Dahulu Tekelak Jadi Pusat Kota Melawi, Baca Sejarahnya

oleh

I170920126290MELAWINEWS.COM-Kabupaten Melawi merupakan salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Kabupaten ini adalah pecahan dari kabupaten Sintang. Kabupaten Melawi saat ini dipimpin oleh bupati Melawi Panji.
Kabupaten Melawi dengan Ibukotanya Nanga Pinoh juga menyimpan berbagai cerita menarik mulai dari asal nama Nanga Pinoh serta peperangan yang terjadi antar kerajaan sebelum kemerdekaan Indonesia atau lebih tepatnya sebelum diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 oleh Bung Karno (Ir. Soekarno) dan Bung Hatta (Moch. Hatta).

Kabupaten Melawi merupakan salah satu diantara 11 Kabupaten yang berada di Kalimantan Barat. Melawi berbatasan dengan Kecamatan Dedai (Kabupaten Sintang), di sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan Tumbang Selam, Provinsi Kalimantan Tengah, di sebelah Selatan, dengan Kecamatan Serawai (Kabupaten Sintang), di sebelah Timur dan dengan Kecamatan Sandai (Kabupaten Ketapang) di sebelah barat. Ibukota kabupaten Melawi adalah Nanga Pinoh, yang biasa dikenal dengan sebutan Kota Juang.
Seperti Kabupaten-Kabupaten lain, di Kabupaten Melawi juga terdapat peninggalan-penilnggalan sejarah. Perjuangan para tokoh masyarakat juga berperanan di dalam perjuangan memperebut kemerdekaan dari tangan penjajahan Belanda maupun Penjajahan Jepang.

Dikatakan bahwa di Melawi banyak terdapat pertumpahan darah akibat peperangan melawan Penjajahan. Hal ini terbukti dengan adanya Benteng bekas pertahan pemerintahan Belanda di pantai sungai Pinoh tepatnya Desa Tanjung Niaga. Dalam memperebutkan kemerdekaan di Melawi terjadi peperangan antara pejuang di Melawi di bantu juga oleh pejuang-pejuang lain dari daerah tetangga seperti Sintang, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

BACA JUGA: ASAL MULA KOTA BARU MELAWI

Dahulu kota Nanga Pinoh terletak di Tekelak, pada tahun 1862 karena pantainya yang curam dan sulitnya bongkar muat sehingga secara berangsur mereka pindah ke seberang yaitu di Nanga Pinoh sekarang. Pada jaman dahulu sebagian kota Nanga Pinoh yaitu sepanjang tepian sungai Melawi (sekarang jalan Garuda) adalah rawa-rawa.

Pada tahun 1891 berdiri badan urusan Pernikahan dan Kematian, ini dibuktikan dengan prasasti Wu Chi Than oleh perkumpulan Sip San Sa (tahun 34 dinasti Kwang Si). Oleh karena penduduk semakin bertambah, terutama marga Lai, maka dibukalah Sekolah Dasar Tionghoa yang pertama tahun 1902-1965.
Orang-orang Tionghoa membawa serta kepercayaan leluhurnya dengan menganut kepercayaan Kong Hu Cu dan membangun Klenteng pertama pada sekitar tahun 1885 di tepi sungai Melawi waktu itu, persisnya di ujung lapangan basket yang sekarang, kemudian dipindahkan oleh Belanda pada tahun 1927.
Pada tahun 1928 terjadi kebakaran hebat di sepanjang tepian sungai Melawi dan menghanguskan 40-an rumah. Karena hebatnya kebakaran, roda perekonomian terganggu sampai berbulan-bulan. Hal ini terjadi karena untuk datangkan sembako dari Pontianak dengan angkutan sungai yang waktu itu disebut kapal bandung, perlu waktu yang lama.

Selain sebagai tempat sembahyang, komunitas etnis Tionghoa waktu itu sering menjadikan Klenteng sebagai lokasi untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, konflik dan sengketa.
Sejak dahulu orang-orang Tionghoa jika membuka usaha, lahan bisnisnya pasti berada di pertemuan dua sungai, ini dimaksudkan agar dagangan dari kedua hulu sungai akan singgah dan menjual dagangannya. Sampai sekarang kita masih bisa melihat jejak petualangan mereka. Contohnya di kota Sintang yang diapit dua sungai yaitu sungai Melawi dan Kapuas, mereka berdagang dan tinggal di antara sungai tersebut. Di kota Sekadau juga berada di antara dua sungai yaitu sungai Kapuas dan sungai Sekadau, demikian juga kota Sanggau berada di antara dua pertemuan sungai, yaitu sungai Kapuas dan sungai Sekayam, dan demikian seterusnya. Orang Tionghoa pada umumnya lebih merayakan Imlek sebagai hari besar, ketimbang hari-hari besar lainnya. Ada kebiasaan mereka menempelkan kertas merah pada pintu rumah, jendela-jendela, bangku, meja, lemari dapur, kue keranjang bahkan sampai di tungku.

Seiring masuknya kolonial Belanda di Nanga Pinoh dan berkembangnya kota Nanga Pinoh, mulailah dikerjakan jalan Sintang-Nanga Pinoh dan Nanga Pinoh-Kota Baru. Pengerjaan dengan pengerahan tenaga Rodi, sehingga jalan Nanga Pinoh-Kota Baru sering disebut jalan 40 hari (karena pekerja Rodi bekerja selama 40 hari per tahun). Tahun 1931 kolonial Belanda membangun pasar pagi yang tahan api , tetapi pasar ini pun terbakar ludes tahun 2003. Selengkapnya silahkan lihat blog http://habibpadilah.blogspot.co.id/2012/12/asal-mula-nama-nanga-pinoh-dan-sejarah_7234.html